Bercinta dengan Lady Gaga

Sudah menjadi berita. Lady Gaga penyanyi yang penampilannya rada-rada gila itu batal konser di Jakarta.

Lady Gaga dianggap tidak layak konser di Indonesia yang masih berbudaya. Takut Lady Gaga membawa bencana. Penampilan Lady Gaga tidak sesuai budaya Indonesia yang masih mengenal tatakrama. Katanya.

Penyanyi pop kelahiran New York yang bernama asli Stefani Joanne Angelina Germanotta. Memang fenomenal dan menggoncang dunia. Pada 2011 Lady Gaga menjadi penyanyi terkaya.

Penampilan pelik dan pamer dada adalah kesukaannya. Biar dihujat kaum agama. Lady Gaga banyak yang suka. Terutama para pria muda. Mungkin termasuk Anda. Kalau saya? Rahasia!

“Mother Monster” adalah julukan Lady Gaga. Tidak pernah kehabisan gaya. Tubuh seksinya dieksploitasi sedemikian rupa. Mengumbar syahwat di mana-mana.

Tak dipungkiri bila melihat penampilannya. Dipastikan tidak sedikit pria yang ingin bercinta dengannya. Bercumbu mesra. Menikmati surga dunia.

Tapi bagaimana caranya? Mudah saja. Cukup bermodalkan fantasi semata. Pandangi saja foto atau video Lady Gaga. Pejamkan mata. Khayalan seakan menjadi nyata.

Walau Lady Gaga tak jadi konser di Jakarta. Tapi tubuh seksinya telah tersimpan di banyak kepala. Menjadi obyek berfantasi ria.

Lady Gaga … Lady Gaga … Di atas panggung engkau bergoyang dan pamer buah dada. Di bawa panggung banyak milik pria yang tidak dipamerkan ikut terpesona. Mungkin diam-diam ingin bercinta.

Tubuh wanita memang menjadi sesuatu yang paling menarik bagi pria sepanjang masa. Tidak sedikit membuat pria terjatuh dan merana. Begitulah dunia. Entah salah siapa.

Lady Gaga … Lady Gaga … Penampilanmu telah mengundang banyak yang ingin bercinta. Tapi hanya rayuan gombal saja.

Banyak di antara kita yang suka berstandar ganda. Bilang pemuja setan pada Lady Gaga. Tapi masih suka kesetanan mengumbar nafsu di udara.
Tidak suka pada Lady Gaga. Tapi dengan gagah menggagahi wanita yang bukan istrinya.

Ketika Pernikahan Sejenis Dilegalkan

Kini kita memasuki jaman yang kritis dan krisis moralitas. Karena seringkali pembenaran menjadi pegangan. Manusia tidak bisa lagi jernih menentukan mana yang salah dan mana yang benar.

#
Mungkin tak pernah kita bayangkan dan pikirkan. Bahwa akan ada pernikahan sejenis yang dilegalkan. Karena pernikahan yang umumnya terjadi adalah antara seorang pria dan wanita.
Itulah pernikahan yang dilegalkan dan sesuai kebenaran.

Tetapi selaras dengan perkembangan jaman dan semakin pintarnya manusia.
Banyak hal yang tidak terpikirkan oleh kita bisa terjadi. Seperti halnya pernikahan sejenis.

Kabar terbaru dan cukup menghebohkan adalah dukungan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama terhadap pernikahan sejenis di Amerika.

Padahal di Amerika saat ini baru hanya beberapa negara bagian yang mendukung pernikahan sejenis. Karena hal ini masih dianggap aib sebagian besar masyarakat.

Untuk saat ini ada beberapa negara yang telah melegalkan pernikahan sejenis. Seperti Belanda, Kanada, Spanyol, Argentina dan Afrika Selatan.

Tetapi untuk Asia dan Timur Tengah pernikahan sejenis adalah sesuatu yang terlarang. Bukan hanya karena tidak diijinkan agama. Namun dianggap melanggar moral etika.

Pada kebenarannya dunia ini diciptakan berpasangan. Positif dan negatif. Pria dan wanita. Siang dan malam. Langit dan bumi.

Ada hukum semesta yang berlaku. Ada keteraturan yang mengatur. Siang dan malam tidak akan bertemu. Begitu juga langit dan bumi. Termasuk positif dan negatif tak mungkin bisa bersatu. Itulah hukum semesta.

Jaman terus berubah. Kebenaran memiliki perlawanan dari pembenaran. Hingga yang tidak sesuai kebenaran dapat dibenarkan.

Setelah sebelumnya judi dilegalkan. Kemudian pelacuran. Lalu Eutanasia. Saat ini pernikahan sejenis pun dilegalkan.

Sesuatu hal yang sangat bertentangan dengan ajaran agama dan moral etika. Tetapi kini dianggap yang benar oleh sebagian orang.

Jangan heran bila kedepannya akan banyak lagi hal yang sebelumnya terlarang akan dilegalkan.

Bisa saja nanti ada pernikahan sesama saudara kandung yang dilegalkan dengan berbagai pembenaran.

Saat ini boleh dibilang kita sedang memasuki masa-masa krisis moralitas. Dimana kita sulit membedakan antara yang benar dan salah. Kita terjebak di antaranya.

Kita dihadapkan pada pilihan yang sulit. Karena antara kebenaran dan kesalahan beda-beda tipis.

Itulah sebabnya kita perlu menumbuhkembangkan kearifan dan memelihara akal sehat menghadapi jaman yang membingungkan ini.

Ujian Nasional= Bisnis dan Pembodohan

Ujian Nasional (UN) tetap berjalan dari tahun ke tahun. Walau tidak sedikit yang keberatan dan protes. Bahkan dari kalangan pendidik sendiri.

Padahal UN yang selama ini dilaksanakan tidak mencerdaskan sama sekali. Sebaliknya justru lebih kepada pembodohan.

Tanpa adanya UN dunia pendidik kita tetap akan baik-baik saja. Bahkan lebih baik.

Banyak kalangan yang meminta agar pelaksanaan UN dihentikan saja. Karena tidak memberikan manfaat yang nyata. Sementara biaya yang harus dikeluarkan luar biasa demi terlaksananya UN.

Yang menjadi pertanyaan. Mengapa pemerintah tetap ngotot untuk melaksanakan UN?
Tidak mau mengevaluasi pelaksanaan UN yang amburadul dan sarat kecurangan!

Karena yang dipikirkan pemerintah lebih utama adalah sisi bisnisnya. Kalau sampai proyek UN dibatalkan. Bagaimana dengan kontrak bisnis segala yang mendukung terlaksananya UN?

Apabila proyek UN tidak dilaksanakan berapa banyak pejabat yang jadi korban. Karena aliran dana ke kantong mereka terhenti.

Kalau pemerintah memang benar-benar sepenuhnya memperhatikan dunia pendidikan nasional. Tentu tidak ada sekolah yang rubuh.

Tetapi kalau UN tetap dilaksanakan, paling yang jadi korban itu rakyat banyak. Bukankah rakyat memang harus berkorban?

Pelaksanaan UN yang bertujuan untuk menentukan kelulusan siswa. Saya pikir hanyalah pembodohan.
Sebenarnya yang berhak menentukan lulus tidaknya siswa adalah seorang guru.

Kenyataan dengan adanya UN membuat murid-murid semakin pintar memperbodoh dirinya.

Demi mengejar nilai, mereka rela melakukan kecurangan. Hal ini bahkan dibantu oleh gurunya.

Jual beli kunci jawaban bukan rahasia lagi. Bahkan para guru memfasilitasi. Semua bertujuan agar para murid bisa lulus dengan nilai tinggi demi nama baik sekolah.

Apakah itu tujuan dari dunia pendidikan? Pendidikan adalah mendidik menjadi cerdas dan bermoralitas.
Tapi gara-gara adanya UN, para murid malah dididik menjadi malas dan culas.

Para pejabat teras yang pintar-pintar. Sayangnya cuma pintar berbuat culas demi isi brankas. Jarang yang cerdas dan bermoralitas. Ini realita yang ada!

Berinternet dengan Akal Sehat

Apakah dengan berinternet membuat kita lebih baik dan sehat? Atau gara-gara berinternet kita menjadi sakit?

Baik dan sehat dalam arti pengetahuan kita semakin luas dan pikiran semakin tercerahkan. Semakin banyak relasi atau teman.

Karena kita bersikap dalam berinternet. Memilih dan memilah hal-hal yang bermanfaat saja.

Sakit yang dimaksud di sini adalah berinternet justru membuat pikiran dan hati kita tidak terkendali. Akibat informasi yang kita akses adalah serba negatif.

Sepanjang hari berinternet hanya untuk berdebat kusir dan mencaci maki. Lalu buka-buka situs porno untuk meredakan ketegangan. Eh, salah! Bukan semakin bikin tegang?

Apa tidak sakit tuh namanya? Sudah tegang-tegang berdebat, malah lari buka situs porno. Pastinya tambah tegang. Bisa-bisa jadi stroke ha ha ha …
Catat. Ini bukan pengalaman pribadi!

Memanfaatkan kecanggihan teknologi dengan tujuan positif pasti akan berdampak positif bagi pikiran dan jiwa. Itulah yang disebut berinternet sehat.

Sebaliknya memanfaatkan kemajuan teknologi untuk tujuan negatif, maka dampak negatiflah yang ada.
Karena energi negatif yang ada akan selalu menggerakkan pikiran kita untuk menemukan salurannya. Biar klop.

Dalam mengakses internet pada saat ini bukan hanya kita yang akan mendapatkan berbagai informasi dan ilmu pengetahuan yang bermanfaat.

Tetapi kita juga bisa mengambil bagian untuk menyebarluaskan sesuatu yang bermanfaat yang kita miliki atau ketahui bagi banyak orang dengan menulis.

Dengan berinternet secara sehat, kita dapat menjadikan dunia maya sebagai dunia yang indah. Menghadirkan sejuta senyuman setiap harinya.

Berbagi dan saling berhubungan dengan sesama di mana pun berada. Dunia seakan tanpa batas.

Menghindari perdebatan dan membikin rusuh dengan kata-kata sampah.menghujat di sana-sini mencari permusuhan. Memanipulasi untuk tujuan yang semu.

Akibatnya mau tersenyum sejenak pun di depan komputer atau laptop tak terpikir lagi. Serius dan tegang. Bagaimana bisa sehat kalau begitu?

Setiap orang memiliki kehendak bebas untuk memilih dan meraih tujuannya. Termasuk dalam hal berinternet.

Beruntunglah bagi pribadi yang masih bisa menggunakan akal sehatnya untuk menjelajahi luasnya dunia maya. Menemukan remah-remah kehidupan yang positif dan mencerahkan.

Bagaimana dengan kita sendiri? Loh, kok senyum-senyum?

Menulis dalam Lorong Kesunyian

Menulis dalam keramaian di media sosial blog dapat membuat seorang penulis populer.

Kepopuleran, siapa yang tak ingin dikenal secara luas? Rata-rata manusia tergoda untuk menjadi populer. Bahkan dengan cara mengorbankan harga dirinya.

Dalam hal menulis, tidak sedikit penulis yang tergoda untuk menulis yang tidak sesuai keinginannya yang terdalam.

Namun menulis untuk mencari popularitas. Melampiaskan nafsu dan kebencian untuk mencari sensasi. Sekadar menulis apa yang terpikirkan.

Apa yang ditulis tidak melalui sebuah pemikiran dan perenungan yang mendalam.

Alih-alih memberikan manfaat dan mencerahkan. Menghadirkan informasi dan inspirasi. Yang ada justru mendatangkan emosi dan kesesakan.

Ada kata-kata bijak yang terukir “Menasehati orang dengan kata-kata hanya dapat bertahan sesaat. Tetapi dengan tulisan/buku dapat bertahan hingga ratusan abad.”

Begitu dahsyatnya tulisan. Manfaat dan maknanya. Bayangkan. Bila apa yang kita tulis bukan sesuatu yang bermanfaat. Tapi penuh dengan kata-kata jahat dan sesat. Bukankah kelak juga kita akan menanggung akibatnya.

Tulisan yang ditulis melalui pemikiran yang jernih dan perenungan yang mendalam. Kemudian membuat orang lain melakukan kebaikan. Bukankah kebaikan itu akan melimpah kepada penulisnya walau telah tiada?

Sebaliknya tulisan yang tiada manfaat dan justru menimbulkan kesesatan berpikir bagi orang lain. Bukankah akibatnya akan ditanggung oleh penulisnya kelak?

Sebuah tulisan. Bisa menjadi madu yang menyehatkan. Tapi bisa juga menjadi racun yang mematikan. Sebab itu mana boleh sembarangan kita menulis mengikuti nafsu.

Apa yang hendak kita tulis, semestinya dipikir berulang-ulang. Bertanya-tanya, apa manfaat yang bisa diberikan ketika dibaca orang lain? Apakah dapat menyakiti atau menyinggung perasaan orang lain.

Apalagi menulis di media media sosial blog. Dimana tulisan kita menjangkau pembaca yang sang luas dan bertahan lama. Kapan waktu akan dibaca.

Sebuah tulisan memiliki nyawanya sendiri dan itu diwakili jiwa penulisnya.

Bila memikirkan hal ini, mana boleh sembarangan kita menulis. Lebih baik tidak menulis, daripada menulis sesuatu yang tiada guna dan sia-sia.

Pemerintah: 74 Juta Jiwa Senang Menyambut Kenaikan BBM

Bayangkan. Betapa perhatiannya pemerintah dengan rencana kenaikan BBM kepada rakyatnya. Kenapa? Karena dengan adanya kenaikan BBM, rakyat miskin akan langsung merasakan manfaatnya.

Begitu banyak rakyat yang akan tersantuni. Rakyat miskin dan golongan bawah akan menikmati berkah yang akan dibagi-bagikan pemerintah sebagai kompensasi dari kenaikan BBM.

Berikut penjelasan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa yang saya kutip dari Okezone.com. Hatta mengatakan, bahwa kompensasi 
kenaikan BBM tidak hanya diberikan kepada masyarakat miskin yang jumlahnya 12,36 persen.

Tetapi yang akan diberikan kompensasi 30 persen masyarakat bawah atau 18,5 juta KK atau meliputi 74 juta jiwa.

Wow, 74 juta jiwa rakyat Indonesia akan sangat bersuka cita dan berterimakasih kepada pemerintah. Khususnya kepada Presiden SBY yang begitu baik memperhatikan rakyat miskin.

Uang kompensasi atas kenaikan BBM yang mencapai angka entah berapa puluh atas ratus triliun itu akan dibagikan kepada rakyat. Beginilah cara pemerintah menyejahterakan rakyatnya.

Rakyat miskin akan bersuka cita menerima BLSM (Bantuan Langsung Sementara Masyarakat) selama berbulan-bulan.

Jelas situasi ini membuat rakyat senang jadi orang miskin. Mungkin malah berharap BBM sering-sering dinaikkan. Toh mereka tidak pernah membeli BBM. Sebagian lagi mungkin akan rela atau sedang berencana memiskinkan diri demi untuk mendapat BLSM.

Kenaikan BBM juga pasti disambut rakyat miskin yang kesulitan membeli beras. Karena mereka akan dihadiahi raskin oleh pemerintah. Bagaimana tidak berterimakasih?

Para orangtua, murid, dan guru kemungkinan besar juga akan gembira . Karena pemerintah akan memperbanyak pemberian beasiswa dan bantuan kepada guru.

Selain itu kompensasi lainnya pemerintah akan sering-sering mengadakan bazar sembako murah, sehingga terjangkau oleh masyarakat.

Satu lagi ada kompensasi untuk keringanan transportasi. Bisa saja nanti orang miskin gratis naik bus way atau naik Garuda dan bikin SIM atau STNK gratis.

Nah, kalau melihat rencana penggunaan dana kompensasi yang begitu bermanfaat bagi masyarakat luas atau untuk rakyat miskin. Bukankah itu berarti pemerintah sangat pro rakyat dengan menaikkan harga BBM?

Dalam hal ini, tentu pemerintah akan cuek dengan protes segelintir kalangan yang menolak kenaikan BBM. Karena yang pasti akan mendukung 74 juta rakyat. Mungkin bisa bertambah. Karena masih ada yang merencanakan menjadi rakyat miskin ha ha ha … Makanya jangan takut miskin!

Pendeta dan Sampah

Membiasakan diri hidup bersih dengan membuang sampah pada tempatnya adalah untuk melatih hidup sendiri lingkungan dan hati…Sekaligus untuk memupuk keimanan. Begitu sederhananya.

Pendeta di gereja istri saya ikut kebaktian Minggu selalu berpesan, agar umat yang hadir tidak sembarangan membuang sampah di dalam gereja.

Karena ternyata selama ini para umat begitu ringan tangan membuang sampah selama kebaktian berlangsung. Berupa bekas bungkus permen dan tissue kebanyakan.

Demi untuk menyampaikan pesan sederhana tersebut. Sang Pendeta selama 2 minggu melatih dan membiasakan diri terlebih dahulu untuk tidak membuang sampah sembarangan di manapun. Hal sepele yang terlupakan.

Diikuti pula dengan membuang sampah pada tempatnya bila menemukan sampah yang dibuang sembarangan.
Ternyata memang tidak mudah. Demikian pengakuan Sang Pendeta.

Terakhir waktu mengikuti perayaan Natal. Lagi-lagi pendeta yang adalah gembala di gereja tersebut berpesan mengenai hal ini.

Apalagi saat itu adalah perayaan Natal. Umat yang hadir banyak. Sang Pendeta mengantisipasinya mengingatkan kembali setelah menyampaikan penutupan acara perayaan.

Namun apa yang terjadi? Sayang seribu sayang. Hanya beberapa umat saja yang mengingat pesan Sang Pendeta. Membersihkan dan membawa sampahnya saat keluar.

Dengan jelas terlihat di lantai masih cukup banyak tersisa gelas air mineral, sisa-sisa lilin yang digunakan, bekas bungkus permen, tissue, dan lain-lain.
Ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

Sebenarnya saya tidak begitu masalah dengan sisa-sisa sampah tersebut. Masalahnya saya tidak menemukan sisa-sisa uang yang ditinggalkan. Coba kalau ada?!

Saya hanya heran saja. Pesan yang begitu sederhana dan baru saja disampaikan dengan jelas. Tak bisa dilakukan. Langsung lenyap dari ingatan. Lalu bagaimana dengan Firman Tuhannya?

Apakah mungkin para umat, termasuk saya, begitu berimannya pada Tuhan yang baik dan ajaib, sehingga percaya sampah tersebut dalam sekejab akan dibersihkan oleh Tuhan?

Kita memang sering lupa dengan hal-hal yang sederhana. Padahal hal yang sederhana itu luar biasa manfaatnya.
Hal ini sebenarnya juga kembali kepada kebiasaan hidup sehari-hari, sehingga akan terbawa ke manapun.

Memang mengherankan, di negeri yang katanya kebersihan adalah sebagian dari iman. Ternyata sampah bertebaran di mana-mana. Bahkan di dalam rumah ibadah.

Bagaimana dengan sampah-sampah yang ada di hati kita masing-masing? Apakah juga bertebaran?

Kata Rakyat: Jakarta Banjir Terus dan Mendatangkan Banyak Kesusahan. Pejabat Berkata: Siapa Bilang Jakarta Terus Banjir? Yang Benar Itu, Hanyalah Genangan Air Sementara

Kata Arswendo Atmowiloto, banjir itu hanya untuk rakyat kecil saja. Dampak buruknya lebih dirasakan oleh rakyat. Banjir bagi rakyat adalah kesusahan dan penderitaan. Itu adalah bencana.

Masalah banjir sebenarnya bukan hanya semata-mata karena sampah. Tapi lebih banyak dipengaruhi pengelola tatakota atau lingkungan.

Pembangunan yang tidak terencana baik. Masalah AMDAL (analisis mengenal dampak lingkungan) tidak menjadi perhatian serius.

Pembangunan gedung-gedung beton yang tidak sesuai amdal pun bisa terus berjalan lancar. Tak lain karena ada uang pelicinnya. Ini adalah isu yang kita ketahui.

Tak heran kalau Arswendo melontarkan lelucon. Bahwa Jakarta itu pernah pernah banjir menurut versi pejabat. Yang ada dan benar itu adalah istilahnya genangan air sementara. Hanya genangan air sementara karena hujan.

Jadi tidak perlu dibesar-besarkan. Ini hanya masalah pengaruh alam saja. Cuma setahun sekali saja. Lagian juga bisa mendatangkan berkah bagian sebagian orang.

Kalau acara genangan air sementara. Bukankah para pejabat bisa lebih sibuk mencari muka. Lebih sibuk diwawancara. Lebih banyak proyek yang bisa digarap. Bisa jadi berkah untuk mendapat dana segar.

Nasehat yang harus diterima rakyat adalah bahwa dibalik setiap bencana pasti ada maknanya. Lebih membuat bersabar dan menerima keadaan. Karena itu biar banjirpun harus tetap bersyukur.

Kalau untuk pejabat tidak perlu nasehat. Karena sudah pintar. Mungkin juga sudah bisa menasehati dirinya dengan berkata,”Genangan air memang mendatangkan berkah. Saya harus memanfaatkan keadaan ini sebaik-baiknya. Kesempatan baik ini tidak boleh disia-siakan!”

Mungkin ada yang protes seperti ini,”Yang benar saja ada pejabat seperti itu. Anda pasti ngawur itu!”

Sepertinya itu akan terjadi kalau pejabatnya itu adalah saya. Untungnya sekarang saya belum jadi pejabat. Doakan deh jangan sampai saya jadi pejabat. Pasti bakal menyusahkan rakyat!

Pejabat Licik = Rakyat Hidup Tercekik

“Apabila para pejabat menjadi licik, rakyat akan menderita. Apabila para pejabat polos, tulus, dan sederhana, maka rakyat akan sejahtera.” TAO TE CING

#
Apa yang terjadi pada rakyat di negeri yang kekayaan alamnya melimpah bernama Indonesia?
Kenyataan yang ada hanya sebagian saja yang sejahtera. Lebih banyak rakyat yang menderita.

Apa sebabnya rakyat tidak dapat serta menikmati kekayaan alamnya yang melimpah?
Sebab para pejabat di negerinya lebih banyak yang berakal licik. Lebih memikirkan dirinya sendiri dan keluarganya.

Dengan kelicikan yang mereka miliki, mereka berusaha membuat sejahtera dirinya. Dengan janji-janji manis agar rakyat memilihnya menjadi pejabat. Lalu dengan licik membohongi rakyatnya.

Tak heran dengan kelicikan mereka mencuri milik rakyatnya. Mereka bisa hidup enak dan nyaman. Sementara rakyatnya tetap hidup kekurangan.

Kekayaan alam yang seharusnya dapat untuk membuat sejahtera rakyatnya. Dikuras habis demi untuk memperkaya para pejabatnya yang licik. Sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan.

Pengemis dan gelandangan terlantar di mana-mana. Harus dengan cara-cara licik pula untuk mempertahankan hidupnya. Padahal seharusnya mereka adalah tanggung jawab negara. Tapi ternyata mereka hanya dianggap sampah masyarakat saja.

Rakyat yang hidup dalam kemiskinan tetap saja banyak. Di mana ada pembagian sembako gratis selalu menjadi rebutan. Bahkan yang mampu tetap saja tak malu untuk ambil bagian.

Banyak rakyat miskin. Demi untuk mempertahankan hidupnya dan untuk memperkaya diri. Melakukan hal yang licik. Menipu dan membohongi. Ini karena mereka juga meneladani para pejabatnya.
Yang saling berebut kekayaan daripada menyebarkan kebajikan.

Tepat seperti yang dikatakan Konfusius,“Kebajikan itulah yang pokok dan kekayaan itulah yang ujung. Bila mengabaikan yang pokok dan mengutamakan yang ujung, inilah meneladani rakyat untuk berebut.”

Kita boleh bersedih dan menangisi. Apa yang dikatakan Konfusius, persis sedang terjadi di negeri tercinta ini. Sungguh sulit menemukan pejabat yang polos, tulus, dan sederhana. Kenyataan para pejabat dipenuhi akal licik untuk mengembalikan modalnya. Urusan kesejahteraan rakyat menjadi nomor sekian.

Bahan-bahan pokok yang merupakan kebutuhan rakyat. Sekarang banyak yang harus impor. Karena kekurangan produksi. Sungguh aneh memang. Bukannya prihatin. Hal ini justru merupakan kesempatan bagi para pejabat untuk menambah penghasilan.

Begitulah kemudian rakyat harus menanggung penderitaan. Kesejahteraan yang dijanjikan seperti hanya mimpi saja.
Kebutuhan hidup semakin tinggi. Beras saja mahal di negeri agraris. Garam pun harus impor. Kentang tak mau kalah minta diimpor juga.

Kalau rakyat miskin semakin menderita. Para pejabat semakin kaya. Bersiap-siaplah bila rakyat terpaksa dengan paksa merebut miliknya dengan amarah.

Mutasi dan Korupsi Itu Wajar! Kalau Rakyat Sensi Juga Wajar Dong?

Seorang pejabat atau penegak hukum kalau dimutasi itu wajar. Sudah sesuai aturan dan prosedur. Begitu kata pimpinan beralasan. Jadi jangan berprasangka buruk dulu. Mutasi itu untuk promosi yang bersangkutan meniti jenjang karir yang lebih tinggi. Alasan berikutnya.

Seorang pejabat atau penegak hukum yang berintegritas, bila sengaja dimutasi ke sana-sini itulah adalah hal yang sangat wajar. Sebagai seorang pejabat yang baik dan masih berpegang pada nurani, dianggap sulit diajak bekerjasama.

Wajar saja, karena kebanyakan pejabat dan penegak hukum kita nuraninya entah ke mana disembunyikan.
Pejabat yang jujur, kemudian dijadikan musuh bersama dan harus disingkirkan.

Di negeri ini, namanya perbuatan korupsi itu adalah hal yang wajar bagi para pejabat dan penegak hukum.
Wajar, karena modal yang dikeluarkan untuk meraihnya dulu sangatlah mahal.

Wajar, kalau setelah menjabat mereka sibuk mencari celah untuk korupsi agar modal bisa segera kembali.
Wajarlah, kalau pejabat dan penegak hukum berlomba-lomba mencari kesempatan untuk memperkaya diri.
Kapan lagi, kalau bukan saat ini.

Wajar, kalau pejabat dan penegak hukum di negeri ini tidak pernah jera untuk berbuat korupsi. Tapi semakin jadi. Sebab sudah dijadikan tradisi. Apalagi hukum bisa dibeli.

Korupsi sudah dianggap hal yang wajar. Justru bila Anda berani menentang dan bersuara, akan dianggap kurang ajar dan akan dihajar.

Dari dulu sudah banyak dibentuk komisi ini-itu untuk memberantas korupsi. Tapi nyatanya bubar semua tanpa bekas sama sekali.

KPK, komisi pemberantasan korupsi terkini, sudah diterjang berkali-kali. Sampai pimpinannya dibui dengan rekayasa dan konspirasi.

Wajar, wajar. Sebab KPK dianggap kurang kerjaan dan mengganggu kenyamanan para koruptor untuk beroperasi. Mereka tidak akan berhenti untuk terus melemahkan komisi ini.

Akhirnya, wajar juga kalau masyarakat sekarang begitu sensi atau sensitif dengan segala gerak-gerik para elite.
Wajar kalau selalu timbul kecurigaan dan ketidakpercayaan.

Wajar kalau masyarakat tidak begitu saja mau diperdaya. Bahwa pejabat yang baik dan jujur itu dimutasi sebagai promosi dan sesuai aturan. Sebab tak jarang itu adalah cara untuk membuang orang yang dianggap penghalang.

Wajar kalau masyarakat sensi atau meragukan pidato pimpinannya yang akan menindak tegas para pelaku korupsi. Buktinya, korupsi tetap saja merajalela dan semakin jadi.

Dari tadi bicara soal wajar, saya baru sadar. Sebenarnya apakah wajar saya menuliskan hal ini?
Gawat, kalau dianggap kurang ajar dan perlu diajar!

Next Page »


SALAM DAMAI DARI HATI

MENJAGA KESADARAN SETIAP SAAT

 

Mei 2012
S S R K J S M
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Sumbangsih

alexa

Internet Sehat

MARI...SALING MENGASIHI

Festival

Blogbox
Penilaian Rata-rata:
Buat Blogbox

SETIAP HARI PENUH INSPIRASI

rumahblogger.com, rumahnya blogger indonesia!
[slideboom id=78249&w=425&h=370]

NIKMATI HIDUP INI DENGAN HATI YANG GEMBIRA

[slideboom id=78249&w=425&h=370]

dilelang untuk penawaran nilai terendah!

saatnya menyanyikan suara hati untuk introspeksi