Pendeta dan Sampah

Membiasakan diri hidup bersih dengan membuang sampah pada tempatnya adalah untuk melatih hidup sendiri lingkungan dan hati…Sekaligus untuk memupuk keimanan. Begitu sederhananya.

Pendeta di gereja istri saya ikut kebaktian Minggu selalu berpesan, agar umat yang hadir tidak sembarangan membuang sampah di dalam gereja.

Karena ternyata selama ini para umat begitu ringan tangan membuang sampah selama kebaktian berlangsung. Berupa bekas bungkus permen dan tissue kebanyakan.

Demi untuk menyampaikan pesan sederhana tersebut. Sang Pendeta selama 2 minggu melatih dan membiasakan diri terlebih dahulu untuk tidak membuang sampah sembarangan di manapun. Hal sepele yang terlupakan.

Diikuti pula dengan membuang sampah pada tempatnya bila menemukan sampah yang dibuang sembarangan.
Ternyata memang tidak mudah. Demikian pengakuan Sang Pendeta.

Terakhir waktu mengikuti perayaan Natal. Lagi-lagi pendeta yang adalah gembala di gereja tersebut berpesan mengenai hal ini.

Apalagi saat itu adalah perayaan Natal. Umat yang hadir banyak. Sang Pendeta mengantisipasinya mengingatkan kembali setelah menyampaikan penutupan acara perayaan.

Namun apa yang terjadi? Sayang seribu sayang. Hanya beberapa umat saja yang mengingat pesan Sang Pendeta. Membersihkan dan membawa sampahnya saat keluar.

Dengan jelas terlihat di lantai masih cukup banyak tersisa gelas air mineral, sisa-sisa lilin yang digunakan, bekas bungkus permen, tissue, dan lain-lain.
Ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.

Sebenarnya saya tidak begitu masalah dengan sisa-sisa sampah tersebut. Masalahnya saya tidak menemukan sisa-sisa uang yang ditinggalkan. Coba kalau ada?!

Saya hanya heran saja. Pesan yang begitu sederhana dan baru saja disampaikan dengan jelas. Tak bisa dilakukan. Langsung lenyap dari ingatan. Lalu bagaimana dengan Firman Tuhannya?

Apakah mungkin para umat, termasuk saya, begitu berimannya pada Tuhan yang baik dan ajaib, sehingga percaya sampah tersebut dalam sekejab akan dibersihkan oleh Tuhan?

Kita memang sering lupa dengan hal-hal yang sederhana. Padahal hal yang sederhana itu luar biasa manfaatnya.
Hal ini sebenarnya juga kembali kepada kebiasaan hidup sehari-hari, sehingga akan terbawa ke manapun.

Memang mengherankan, di negeri yang katanya kebersihan adalah sebagian dari iman. Ternyata sampah bertebaran di mana-mana. Bahkan di dalam rumah ibadah.

Bagaimana dengan sampah-sampah yang ada di hati kita masing-masing? Apakah juga bertebaran?

Kata Rakyat: Jakarta Banjir Terus dan Mendatangkan Banyak Kesusahan. Pejabat Berkata: Siapa Bilang Jakarta Terus Banjir? Yang Benar Itu, Hanyalah Genangan Air Sementara

Kata Arswendo Atmowiloto, banjir itu hanya untuk rakyat kecil saja. Dampak buruknya lebih dirasakan oleh rakyat. Banjir bagi rakyat adalah kesusahan dan penderitaan. Itu adalah bencana.

Masalah banjir sebenarnya bukan hanya semata-mata karena sampah. Tapi lebih banyak dipengaruhi pengelola tatakota atau lingkungan.

Pembangunan yang tidak terencana baik. Masalah AMDAL (analisis mengenal dampak lingkungan) tidak menjadi perhatian serius.

Pembangunan gedung-gedung beton yang tidak sesuai amdal pun bisa terus berjalan lancar. Tak lain karena ada uang pelicinnya. Ini adalah isu yang kita ketahui.

Tak heran kalau Arswendo melontarkan lelucon. Bahwa Jakarta itu pernah pernah banjir menurut versi pejabat. Yang ada dan benar itu adalah istilahnya genangan air sementara. Hanya genangan air sementara karena hujan.

Jadi tidak perlu dibesar-besarkan. Ini hanya masalah pengaruh alam saja. Cuma setahun sekali saja. Lagian juga bisa mendatangkan berkah bagian sebagian orang.

Kalau acara genangan air sementara. Bukankah para pejabat bisa lebih sibuk mencari muka. Lebih sibuk diwawancara. Lebih banyak proyek yang bisa digarap. Bisa jadi berkah untuk mendapat dana segar.

Nasehat yang harus diterima rakyat adalah bahwa dibalik setiap bencana pasti ada maknanya. Lebih membuat bersabar dan menerima keadaan. Karena itu biar banjirpun harus tetap bersyukur.

Kalau untuk pejabat tidak perlu nasehat. Karena sudah pintar. Mungkin juga sudah bisa menasehati dirinya dengan berkata,”Genangan air memang mendatangkan berkah. Saya harus memanfaatkan keadaan ini sebaik-baiknya. Kesempatan baik ini tidak boleh disia-siakan!”

Mungkin ada yang protes seperti ini,”Yang benar saja ada pejabat seperti itu. Anda pasti ngawur itu!”

Sepertinya itu akan terjadi kalau pejabatnya itu adalah saya. Untungnya sekarang saya belum jadi pejabat. Doakan deh jangan sampai saya jadi pejabat. Pasti bakal menyusahkan rakyat!

Pejabat Licik = Rakyat Hidup Tercekik

“Apabila para pejabat menjadi licik, rakyat akan menderita. Apabila para pejabat polos, tulus, dan sederhana, maka rakyat akan sejahtera.” TAO TE CING

#
Apa yang terjadi pada rakyat di negeri yang kekayaan alamnya melimpah bernama Indonesia?
Kenyataan yang ada hanya sebagian saja yang sejahtera. Lebih banyak rakyat yang menderita.

Apa sebabnya rakyat tidak dapat serta menikmati kekayaan alamnya yang melimpah?
Sebab para pejabat di negerinya lebih banyak yang berakal licik. Lebih memikirkan dirinya sendiri dan keluarganya.

Dengan kelicikan yang mereka miliki, mereka berusaha membuat sejahtera dirinya. Dengan janji-janji manis agar rakyat memilihnya menjadi pejabat. Lalu dengan licik membohongi rakyatnya.

Tak heran dengan kelicikan mereka mencuri milik rakyatnya. Mereka bisa hidup enak dan nyaman. Sementara rakyatnya tetap hidup kekurangan.

Kekayaan alam yang seharusnya dapat untuk membuat sejahtera rakyatnya. Dikuras habis demi untuk memperkaya para pejabatnya yang licik. Sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan.

Pengemis dan gelandangan terlantar di mana-mana. Harus dengan cara-cara licik pula untuk mempertahankan hidupnya. Padahal seharusnya mereka adalah tanggung jawab negara. Tapi ternyata mereka hanya dianggap sampah masyarakat saja.

Rakyat yang hidup dalam kemiskinan tetap saja banyak. Di mana ada pembagian sembako gratis selalu menjadi rebutan. Bahkan yang mampu tetap saja tak malu untuk ambil bagian.

Banyak rakyat miskin. Demi untuk mempertahankan hidupnya dan untuk memperkaya diri. Melakukan hal yang licik. Menipu dan membohongi. Ini karena mereka juga meneladani para pejabatnya.
Yang saling berebut kekayaan daripada menyebarkan kebajikan.

Tepat seperti yang dikatakan Konfusius,“Kebajikan itulah yang pokok dan kekayaan itulah yang ujung. Bila mengabaikan yang pokok dan mengutamakan yang ujung, inilah meneladani rakyat untuk berebut.”

Kita boleh bersedih dan menangisi. Apa yang dikatakan Konfusius, persis sedang terjadi di negeri tercinta ini. Sungguh sulit menemukan pejabat yang polos, tulus, dan sederhana. Kenyataan para pejabat dipenuhi akal licik untuk mengembalikan modalnya. Urusan kesejahteraan rakyat menjadi nomor sekian.

Bahan-bahan pokok yang merupakan kebutuhan rakyat. Sekarang banyak yang harus impor. Karena kekurangan produksi. Sungguh aneh memang. Bukannya prihatin. Hal ini justru merupakan kesempatan bagi para pejabat untuk menambah penghasilan.

Begitulah kemudian rakyat harus menanggung penderitaan. Kesejahteraan yang dijanjikan seperti hanya mimpi saja.
Kebutuhan hidup semakin tinggi. Beras saja mahal di negeri agraris. Garam pun harus impor. Kentang tak mau kalah minta diimpor juga.

Kalau rakyat miskin semakin menderita. Para pejabat semakin kaya. Bersiap-siaplah bila rakyat terpaksa dengan paksa merebut miliknya dengan amarah.

Mutasi dan Korupsi Itu Wajar! Kalau Rakyat Sensi Juga Wajar Dong?

Seorang pejabat atau penegak hukum kalau dimutasi itu wajar. Sudah sesuai aturan dan prosedur. Begitu kata pimpinan beralasan. Jadi jangan berprasangka buruk dulu. Mutasi itu untuk promosi yang bersangkutan meniti jenjang karir yang lebih tinggi. Alasan berikutnya.

Seorang pejabat atau penegak hukum yang berintegritas, bila sengaja dimutasi ke sana-sini itulah adalah hal yang sangat wajar. Sebagai seorang pejabat yang baik dan masih berpegang pada nurani, dianggap sulit diajak bekerjasama.

Wajar saja, karena kebanyakan pejabat dan penegak hukum kita nuraninya entah ke mana disembunyikan.
Pejabat yang jujur, kemudian dijadikan musuh bersama dan harus disingkirkan.

Di negeri ini, namanya perbuatan korupsi itu adalah hal yang wajar bagi para pejabat dan penegak hukum.
Wajar, karena modal yang dikeluarkan untuk meraihnya dulu sangatlah mahal.

Wajar, kalau setelah menjabat mereka sibuk mencari celah untuk korupsi agar modal bisa segera kembali.
Wajarlah, kalau pejabat dan penegak hukum berlomba-lomba mencari kesempatan untuk memperkaya diri.
Kapan lagi, kalau bukan saat ini.

Wajar, kalau pejabat dan penegak hukum di negeri ini tidak pernah jera untuk berbuat korupsi. Tapi semakin jadi. Sebab sudah dijadikan tradisi. Apalagi hukum bisa dibeli.

Korupsi sudah dianggap hal yang wajar. Justru bila Anda berani menentang dan bersuara, akan dianggap kurang ajar dan akan dihajar.

Dari dulu sudah banyak dibentuk komisi ini-itu untuk memberantas korupsi. Tapi nyatanya bubar semua tanpa bekas sama sekali.

KPK, komisi pemberantasan korupsi terkini, sudah diterjang berkali-kali. Sampai pimpinannya dibui dengan rekayasa dan konspirasi.

Wajar, wajar. Sebab KPK dianggap kurang kerjaan dan mengganggu kenyamanan para koruptor untuk beroperasi. Mereka tidak akan berhenti untuk terus melemahkan komisi ini.

Akhirnya, wajar juga kalau masyarakat sekarang begitu sensi atau sensitif dengan segala gerak-gerik para elite.
Wajar kalau selalu timbul kecurigaan dan ketidakpercayaan.

Wajar kalau masyarakat tidak begitu saja mau diperdaya. Bahwa pejabat yang baik dan jujur itu dimutasi sebagai promosi dan sesuai aturan. Sebab tak jarang itu adalah cara untuk membuang orang yang dianggap penghalang.

Wajar kalau masyarakat sensi atau meragukan pidato pimpinannya yang akan menindak tegas para pelaku korupsi. Buktinya, korupsi tetap saja merajalela dan semakin jadi.

Dari tadi bicara soal wajar, saya baru sadar. Sebenarnya apakah wajar saya menuliskan hal ini?
Gawat, kalau dianggap kurang ajar dan perlu diajar!

Rukmini, Antara Rok Mini dan Celana Jean

Belakangan urusan rok mini ramai jadi pembicaraan. Terlihat banyak menjadi berita dan bahan tulisan. Tapi entah mengapa saya sedang tidak bergairah bicara soal pakaian.

Jadi jangan heran, kalau saya tidak tahu, apa sebabnya secara jelas urusan rok mini menjadi pembicaraan.

Sampai suatu hari ada tetangga yang bernama Rukmini mengajukan pertanyaan.

“Bang, bagaimana pendapatnya soal rok mini yang sedang heboh dibicarakan?”

Rukmini yang berpakaian ketat dengan rok mininya, langsung duduk tanpa dipersilakan. Ia melipatkan kakinya tanpa sungkan.

Pemandangan menyegarkan. Saat ditatap, Rukmini terlihat tidak riskan.

“Jawab dong, pertanyaan saya, Bang. Kok malah jadi tertegun?”

“Pertanyaan apaan?” saya gelagapan. “Oh, soal rok mini yang sedang jadi bahan pembicaraan? Bagi saya itu, silakan saja kalau memang terasa nyaman dan aman. Tapi kalau boleh saran, lebih bagus roknya agak panjangan. Kelihatan lebih sopan. Tidak menggoda iman.”

“Sebenarnya dengan rok mini ini, suka tidak nyaman. Tapi, Mini buat gaya-gayaan. Biasalah, pergaulan.” Mini beralasan.

Keesokan harinya Rukmini muncul lagi dan tampak ada perubahan. Kelihatan lebih sopan. Berjilbab dan mengenakan celana jean.

“Bang, sudah sopan dan keren, kan?” tanya Mini saat masih berjalan.

“Lumayan. Keren. Pakai kerudung tampak rupawan. Tapi masih kelihatan ganjen. Celananya ketat banget, sampai gundukannya kelihatan. Mengerikan!”

“Gundukan apaan?” Rukmini terheran-heran.

Saya juga heran, kenapa Rukmini masih tidak merasakan ada keganjilan. Penampilan yang tidak sepadan.
Ada saran, teman-teman???

Ternyata Para TKI Sudah Dipersulit di Negeri Sendiri

Para TKI didengungkan oleh pemerintah sebagai pahlawan devisa. Namanya pahlawan, tentu seharusnya mendapatkan penghargaan dan penghormatan di negerinya.  Tapi itukah yang terjadi?

Kita marah dan berteriak-teriak ketika ada TKI yang mendapat perlakuan tidak layak di negeri orang. Wajar. Sebab kita pantas merasa terhina, bila ada saudara setanah air yang diperlakukan semena-mena.

Sayangnya, para TKI itu yang menjadi pahlawan devisa itu sudah diperlakukan tidak seharusnya justru di negeri sendiri.

Karena untuk mengurus ini-itu sebelum keberangkatan sampai pulang, para TKI harus berurusan dengan calo-calo.

Sejak di kampung sampai di bandara, para TKI menjadi lahan pemasukan uang. Saya yakin, sebagian besar kita mengetahui hal ini.

Seorang teman yang menjadi TKI di Hongkong, Fera Nuraini, dimana selama ini melalui tulisannya di blog sering menyuarakan suaranya tentang perlindungan TKI.

Saat pulang cuti Lebaran tahun ini. Ketika hendak mengurus surat di BNP2TKI, ternyata harus menemui kenyataan pahit.

Ketika mencoba mengurus di Surabaya, prosesnya harus beberapa hari. Kemungkinan ini, adalah pancingan agar para TKI mau merogoh koceknya untuk minta dipercepat.

Demi idealisme, Fera tidak mau menggunakan jalur cepat melalui calo. Kemudian ia mendapat informasi bisa diurus di Bandara Soekarwo-Hatta, Jakarta yang buka 24 jam pelayanannya.

Lagi-lagi Fera menemui kendala. Untuk mengurus surat di BNP2TKI Bandara Soekarwo-Hatta, petugas beralasan hanya melayani yang akan berangkat pada hari tersebut saja.

Padahal ada calo yang bisa mengurus dengan imbalan tertentu agar suratnya bisa diurus. Sekali, rekan kita tidak ingin menggunakan jasa calo.

Akhirnya ia disarankan untuk mengurus di BNP2TKI daerah Ciracas, Jakarta Timur. Melalui sedikit perjuangan, surat yang diperlukan dapat diperoleh tanpa melalui calo.

Walau seperti yang dikatakan oleh Fera, di sinipun para calo bergentayangan mencari mangsa. Bahkan ada seorang ibu yang bekerja di Riyadh, harus rela mengeluarkan uang ratusan ribu demi memperoleh surat yang dibutuhkan.

Yang menjadi catatan, sebuah badan yang namanya untuk melindungi para TKI, di depan mana saja tidak bisa melindungi mereka dari pemerasan dari para calo. Bagaimana melindungi mereka yang sedang berada di luar negeri?

Apakah kita percaya, bahwa para calo itu bebas berkeliaran di kantor BNP2TKI, tanpa bekerjasama dengan orang-orang yang bekerja di BNP2TKI?

Rasanya sulit dipercaya kalau para calo itu bebas berkeliaran tanpa mengeluarkan sesuatu untuk memuluskan aksi mereka.
Apakah hal ini berarti BNP2TKI lebih melindungi para calo?

Entahlah. Tapi namanya jelas Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia.

Mengapa Teroris Ada Yang Dihukum Mati, Koruptor Tidak?

Mengapa ada teroris yang dihukum mati, sedangkan koruptor belum pernah ada di Indonesia? Padahal kalau dipikir, perbuatan korupsi lebih berbahaya dibandingkan perbuatan teror!

Aneh memang! Untuk urusan menangkap teroris polisi kita memang jago. Begitu juga para penegak hukum kita begitu cekatan mengambil keputusan hukum untuk para teroris. Seperti  yang kita ketahui sudah ada yang menemui ajalnya diujung senapan.

Namun untuk urusan korupsi, sepertinya polisi atau  para penegak hukum kita seakan mati kutu dan kehilangan nyali. Tak heran, kasus korupsi merebak di mana-mana dan sekarang sudah menjadi tradisi.

Mengapa dikatakan perbuatan korupsi lebih berbahaya dibandingan perbuatan teror? Dengan kata lain, bahwa sebenarnya para koruptor lebih berbahaya bila dibnadingkan dengan para teroris.

Sekilas memang perbuatan para teroris itu mengerikan karena dalam sekejap dapat menimbulkan banyak korban dan menghilangkan begitu banyak nyawa. Belum lagi penderitaan orang-orang yang ditinggalkan. Kejam memang bila hanya dipikirkan dan dilihat dengan mata. Tak heran kita begitu mengutuk para teroris. Tapi apa yang dilakukan oleh para teroris itu bukan demi untuk sendirinya semata. Salah satunya, karena  merasa ada ketidakadilan.

Lalu mengapa dikatakan bahwa sesungguhnya para koruptor lebih berbahaya dibandingkan dengan para teroris?

Tanpa kita sadari, sesungguhnya perbuatan para koruptor itu juga bisa menjadi penyebab kematian banyak orang secara langsung dan secara perlahan dalam jumlah yang sangat banyak. Kemiskinan dan kelaparan bisa dikatakan sebagai maraknya perbuatan korupsi. Dana-dana yang seharusnya digunakan untuk kesejahteraan raktat dimasukkan ke dalam kantong pribadi.

Kecelakaan yang seringkali terjadi di jalan karena jalannya  yang berlubang dan rusak parah, yang mana disebabkan kualitas jalan yang tidak baik. Akibat dananya sudah sebagian dikorupsi, sehingga kualitas jalan asal jadi. Tidak sedikit kecelakaan di negeri ini yang penyebabnya adalah kualitas inftrastrukturnya yang jelek akibat dana-dananya telah dikorupsi.

Begitulah pada saat terjadi bencana, para koruptor masa tega-teganya menyunat sebagian dana untuk kepentingan pribadinya untuk memperkaya diri. Seharusnya bantuan bisa segera dikirimkan untk mengurangi jumlah korban, tapi karena biokrasi dan lainnya bantuan jadi terlambat.

Karena korupsi, banyak anak-anak yang tidak bisa bersekolah dan mendapat pelayanan kesehatan sehingga menimbulkan kebodohan dan kematian.

Kalau dihitung lagi, masih akan banyak kerugian yang ditimbulkan akibat perbuatan korupsi itu. Tapi sayangnya dari waktu ke waktu, para pemimpin kita tidak ada yang berani benar-benar berperang terhadap perbuatan korupsi. Hanya instruksi saja. Terhadap para teroris berani diberikan hukuman mati, tapi terhadap koruptor dipikir seribu kali. Uang dan kekuasaan memang telah membutakan nurani manusia.

Sampai kapan keadaan ini akan terus kita nikmati?

Kemanakah Nuraniku???

Masihkah ada nurani di sini?

Bicara nurani tentu saja akan selalu ada pada setiap insan yang masih bernafas. Namun yang perlu dipertanyakan adalah apakah nuraninya masih yang asli atau hanyalah imitasi?

Para pemuka agama, pemimpin, hakim, jaksa, orang-orang terpandang, pebisnis, sampai orang biasa dan tentu saja saya. Semuanya juga bisa bicara tentang nurani.
Berkata lantang, bahwa hidup ini harus mengedepankan nurani.

Kata-kata boleh penuh dengan nurani, tapi tindakan kebanyakan membelakangi nurani. Boleh jadi memang sudah menggunakan nurani dalam bertindak. Namun yang digunakan adalah nurani imitasi.

Tak heran apa yang dilakukan bukan penuh dengan kebenaran . Tapi yang ada selalu penuh dengan pembenaran-pembenaran.

Nurani memang masih ada di tempatnya, tetapi segala kebajikannya telah dimatikan berganti kebajikan yang semu.
Mengapa selalu ada kepalsuan dari hari ke hari?

Manusia menjadi tidak manusiawi dengan nuraninya yang imitasi. Karena terbiasa hidup menggunakan hatinya yang palsu, lama-kelamaan menjadi karakter kebanyakan manusia.

Akhirnya manusia nyaman hidup dalam kepalsuan dengan perbuatan yang tidak lagi sesuai kehendak Ilahi.
Namun semua sangat dinikmati, karena dianggap mendatangkan kebahagiaan.

Sebaliknya hidup dalam keaslian nurani, kebanyakan manusia justru merasa risih dan malu karena menjadi tertawaan.
Katanya tidak gaul dan tidak sesuai jaman.

Berani hidup sesuai nurani yang sejati, bisa-bisa mendatangkan celaan dan makian, karena akan dianggap sok baik dan alim alim.

Bayangkan, untuk menjadi orang baik saja bukannya mendatangkan kemudahan dan dukungan. Namun justru akan menerima cobaan dan tantangan yang lebih berat.

Karena itu, tidak sedikit manusia yang memiliki keinginan hidup mengikuti nurani, harus mengalah pada keadaan.

Begitulah pada hari-hari ini nurani yang adalah pusaka tertinggi yang dimiliki manusia terbenam dalam jurang hati yang entah berapa dalamnya, sehingga sulit untuk bersuara lagi.

Kini berganti nurani imitasi berisi keakuan yang semakin tinggi. Semuanya berbicara tentang aku. Aku adalah segala-galanya.

Kerendahan hati semakin sulit dicari, karena lebih mementingkan diri sendiri untuk merasa yang paling lebih.

Hati mengasihi sudah tidak lagi mengisi rongga hati berganti ketidakpedulian.
Saling membenci lebih menjadi pilihan.

Maaf, ini bukan untuk menggurui, tapi lebih untuk menggambarkan keadaan diri ini sendiri.
Kini aku sadar, ternyata nurani yang kugunakan selama ini adalah imitasi!

Akan tetapi…… siapa yang peduli?
Masihkah ada nurani di sini?

Bicara nurani tentu saja akan selalu ada pada setiap insan yang masih bernafas. Namun yang perlu dipertanyakan adalah apakah nuraninya masih yang asli atau hanyalah imitasi?

Para pemuka agama, pemimpin, hakim, jaksa, orang-orang terpandang, pebisnis, sampai orang biasa dan tentu saja saya. Semuanya juga bisa bicara tentang nurani.
Berkata lantang, bahwa hidup ini harus mengedepankan nurani.

Kata-kata boleh penuh dengan nurani, tapi tindakan kebanyakan membelakangi nurani. Boleh jadi memang sudah menggunakan nurani dalam bertindak. Namun yang digunakan adalah nurani imitasi.

Tak heran apa yang dilakukan bukan penuh dengan kebenaran . Tapi yang ada selalu penuh dengan pembenaran-pembenaran.

Nurani memang masih ada di tempatnya, tetapi segala kebajikannya telah dimatikan berganti kebajikan yang semu.
Mengapa selalu ada kepalsuan dari hari ke hari?

Manusia menjadi tidak manusiawi dengan nuraninya yang imitasi. Karena terbiasa hidup menggunakan hatinya yang palsu, lama-kelamaan menjadi karakter kebanyakan manusia.

Akhirnya manusia nyaman hidup dalam kepalsuan dengan perbuatan yang tidak lagi sesuai kehendak Ilahi.
Namun semua sangat dinikmati, karena dianggap mendatangkan kebahagiaan.

Sebaliknya hidup dalam keaslian nurani, kebanyakan manusia justru merasa risih dan malu karena menjadi tertawaan.
Katanya tidak gaul dan tidak sesuai jaman.

Berani hidup sesuai nurani yang sejati, bisa-bisa mendatangkan celaan dan makian, karena akan dianggap sok baik dan alim alim.

Bayangkan, untuk menjadi orang baik saja bukannya mendatangkan kemudahan dan dukungan. Namun justru akan menerima cobaan dan tantangan yang lebih berat.

Karena itu, tidak sedikit manusia yang memiliki keinginan hidup mengikuti nurani, harus mengalah pada keadaan.

Begitulah pada hari-hari ini nurani yang adalah pusaka tertinggi yang dimiliki manusia terbenam dalam jurang hati yang entah berapa dalamnya, sehingga sulit untuk bersuara lagi.

Kini berganti nurani imitasi berisi keakuan yang semakin tinggi. Semuanya berbicara tentang aku. Aku adalah segala-galanya.

Kerendahan hati semakin sulit dicari, karena lebih mementingkan diri sendiri untuk merasa yang paling lebih.

Hati mengasihi sudah tidak lagi mengisi rongga hati berganti ketidakpedulian.
Saling membenci lebih menjadi pilihan.

Maaf, ini bukan untuk menggurui, tapi lebih untuk menggambarkan keadaan diri ini sendiri.
Kini aku sadar, ternyata nurani yang kugunakan selama ini adalah imitasi!

Akan tetapi…… siapa yang peduli?

Allah Melihat Hati

Sesungguhnya Allah tidak memperhatikan tubuh ataupun penampilan kalian. Yang diperhatikan adalah hati kalian. [Hadist Rasulullah-HR. Muslim]

Begitulah kita diingatkan oleh Rasul, penampilan luar bukanlah yang terpenting dalam hidup kita, tetapi penampilan hati yang lebih penting. Karena kerapihan hati lebih berkenan bagi Allah dari kerapian pakaian yang kita kenakan.

Namun berapa banyak diantara yang benar-benar lebih memperhatikan penampilan hati kita dibandingkan penampilan fisik kita?

Buktinya, pada saat kita bercermin setiap hari, apa yang lebih diperhatikan?

Pasti kita lebih sibuk memperhatikan dan mengutak-atik penampilan fisik kita.
Poles sana-sini biar terlihat lebih menarik lagi agar bisa menjadi pusat perhatian.

Apa yang lebih kita perhatikan dan jaga setiap hari dari diri kita?

Kerapian dan kebersihan fisik kita tentunya. Memandikannya setiap hari sudah pasti dan melakukan perawatan lainnya serta memberikan pakaian yang terbaik pada tubuh selanjutnya.

Untuk semua itu, kita tak segan mengeluarkan biaya perawatan yang tidak sedikit. Tapi semuanya kita lakukan dengan suka rela demi sebuah penampilan dan menjadi pusat perhatian serta pujian dari orang lain.

Tapi kita lupa, sebagus dan seindah apapun penampilan dan pakaian yang melekat pada tubuh kita, belum tentu akan menarik dan mendapatkan pujian dari Allah.

Karena seperti dikatakan, Allah lebih melihat hati kita. Walau penampilan yang indah dan rapi, tentu tidak selamanya sama dengan penampilan hati kita.

Penampilan fisik yang luar biasa yang dilengkapi perhiasan semahal sekalipun, tak akan bernilai bila tak disertai hati kita yang baik dan bersih.

Mengapa dikatakan bahwa manusia hidup dalam kesesatan pada jaman sekarang?

Karena bisa kita lihat pada kenyataan yang ada pada diri sendiri atau di sekitar kita, bahwa manusia lebih banyak yang berlomba-lomba mengejar kesempurnaan fisiknya daripada kesempurnaan hatinya.

Bahwa manusia lebih menitik beratkan kerapihan dan kebersihan tubuhnya daripada kebaikan dan kebersihan hatinya.

Bahwa manusia lebih sering bercermin dan memperhatikan keadaan tubuh dan penampilan fisiknya daripada keadaan hatinya dengan berintrospeksi diri.

Semoga hadist Rasulullah yang indah dan penuh makna, namun hanya bisa saya pahami dengan sederhana ini ada faedahnya. Bahwa lebih penting bercermin untuk merapikan hati demi Allah, bukan untuk manusia.

Setelah Jadi Pemimpin, Jadi Apa?

Seorang pemimpin yang baik adalah ia yang mau selalu berada di tengah-tengah orang-orang yang dipimpinnya, sehingga ia bisa memahami keadaan orang-orang yang berada dalam pimpinannya.

#

Sepertinya ini pertanyaan bodoh dan iseng saja. Setelah jadi pemimpin tentu saja tugasnya adalah memimpin orang-orang yang dipimpin. Berada di jajaran paling depan untuk mengatur dan mengarahkan.
Bukankah demikian seharusnya?

Ya, demikianlah yang terjadi pada seorang pemimpin. Setelah menjadi pemimpin ia menjadi orang yang maunya hanya memimpin. Hanya maunya berada di bagian depan, merasa orang penting dan tugasnya adalah mengatur.

Pemimpin yang maunya memimpin, sehingga posisinya selalu mau berada di depan saja. Maunya menjadi orang yang dilayani dan dihormati bukannya mengayomi.
Makna pemimpin hanya sekadar dimaknai sebagai orang yang harus berada paling depan.

Apakah memimpin itu harus selalu berada di depan?

Kalau seorang pemimpin hanya mau selalu berada di bagian depan saja, maka dipastikan ia bukanlah seorang pemimpin yang baik. Karena telah tercipta jarak antara atasan dan bawahan.

Karena seorang pemimpin yang hanya mau berada di depan saja dipastikan ia tidak akan bisa mengerti dan memahami keadaan orang yang dipimpinnya.

Ia tidak akan mengetahui dengan jelas kebutuhan rakyatnya.
Ia hanya akan bicara dengan kapasitas sebagai pemimpin yang penuh dengan kepentingan, tetapi bukan untuk kepentingan orang yang dipimpinnya.

Seseorang yang telah menjadi pemimpin seharusnya ia bisa kembali menjadi rakyat biasa layaknya dengan orang yang dipimpinnya, sehingga ia bisa memimpin di tengah orang-orang yang dipimpinnya.

Dengan demikian, sebagai seorang pemimpin, maka ia bisa lebih memahami dan mengerti keadaan orang-orang yang dipimpinnya. Karena ia sendiri merasa adalah bagian dari orang-orang yang dipimpin.

Apapun yang akan diperbuat dan dikatakan pasti akan sesuai dengan kehendak orang-orang yang dipimpin bukannya melukai sehingga menimbulkan pertentangan.

Di dunia ini memang jarang kita bisa menemukan orang-orang yang setelah menjadi pemimpin mau kembali menjadi orang biasa. Karena diperbudak oleh makna dari kata “pemimpin” yang berarti harus berada paling depan.

Kedudukan sebagai pemimpin seringkali membuat seseorang lupa untuk selalu berada di tengah-tengah orang-orang yang dipimpinnya. Lupa diri, bahwa ia juga orang biasa layaknya orang-orang yang dipimpinnya.

Setiap orang adalah pemimpin. Minimal menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri. Untuk belajar jadi pemimpin yang baik, maka pelatihan yang terbaik adalah dengan belajar memimpin diri sendiri.

Next Page »


SALAM DAMAI DARI HATI

MENJAGA KESADARAN SETIAP SAAT

 

Januari 2012
S S R K J S M
« Nop    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Sumbangsih

alexa

Internet Sehat

MARI...SALING MENGASIHI

Festival

Blogbox
Penilaian Rata-rata:
Buat Blogbox

SETIAP HARI PENUH INSPIRASI

rumahblogger.com, rumahnya blogger indonesia!
[slideboom id=78249&w=425&h=370]

NIKMATI HIDUP INI DENGAN HATI YANG GEMBIRA

[slideboom id=78249&w=425&h=370]

dilelang untuk penawaran nilai terendah!

saatnya menyanyikan suara hati untuk introspeksi