Masihkah ada nurani di sini?
Bicara nurani tentu saja akan selalu ada pada setiap insan yang masih bernafas. Namun yang perlu dipertanyakan adalah apakah nuraninya masih yang asli atau hanyalah imitasi?
Para pemuka agama, pemimpin, hakim, jaksa, orang-orang terpandang, pebisnis, sampai orang biasa dan tentu saja saya. Semuanya juga bisa bicara tentang nurani.
Berkata lantang, bahwa hidup ini harus mengedepankan nurani.
Kata-kata boleh penuh dengan nurani, tapi tindakan kebanyakan membelakangi nurani. Boleh jadi memang sudah menggunakan nurani dalam bertindak. Namun yang digunakan adalah nurani imitasi.
Tak heran apa yang dilakukan bukan penuh dengan kebenaran . Tapi yang ada selalu penuh dengan pembenaran-pembenaran.
Nurani memang masih ada di tempatnya, tetapi segala kebajikannya telah dimatikan berganti kebajikan yang semu.
Mengapa selalu ada kepalsuan dari hari ke hari?
Manusia menjadi tidak manusiawi dengan nuraninya yang imitasi. Karena terbiasa hidup menggunakan hatinya yang palsu, lama-kelamaan menjadi karakter kebanyakan manusia.
Akhirnya manusia nyaman hidup dalam kepalsuan dengan perbuatan yang tidak lagi sesuai kehendak Ilahi.
Namun semua sangat dinikmati, karena dianggap mendatangkan kebahagiaan.
Sebaliknya hidup dalam keaslian nurani, kebanyakan manusia justru merasa risih dan malu karena menjadi tertawaan.
Katanya tidak gaul dan tidak sesuai jaman.
Berani hidup sesuai nurani yang sejati, bisa-bisa mendatangkan celaan dan makian, karena akan dianggap sok baik dan alim alim.
Bayangkan, untuk menjadi orang baik saja bukannya mendatangkan kemudahan dan dukungan. Namun justru akan menerima cobaan dan tantangan yang lebih berat.
Karena itu, tidak sedikit manusia yang memiliki keinginan hidup mengikuti nurani, harus mengalah pada keadaan.
Begitulah pada hari-hari ini nurani yang adalah pusaka tertinggi yang dimiliki manusia terbenam dalam jurang hati yang entah berapa dalamnya, sehingga sulit untuk bersuara lagi.
Kini berganti nurani imitasi berisi keakuan yang semakin tinggi. Semuanya berbicara tentang aku. Aku adalah segala-galanya.
Kerendahan hati semakin sulit dicari, karena lebih mementingkan diri sendiri untuk merasa yang paling lebih.
Hati mengasihi sudah tidak lagi mengisi rongga hati berganti ketidakpedulian.
Saling membenci lebih menjadi pilihan.
Maaf, ini bukan untuk menggurui, tapi lebih untuk menggambarkan keadaan diri ini sendiri.
Kini aku sadar, ternyata nurani yang kugunakan selama ini adalah imitasi!
Akan tetapi…… siapa yang peduli?
Masihkah ada nurani di sini?
Bicara nurani tentu saja akan selalu ada pada setiap insan yang masih bernafas. Namun yang perlu dipertanyakan adalah apakah nuraninya masih yang asli atau hanyalah imitasi?
Para pemuka agama, pemimpin, hakim, jaksa, orang-orang terpandang, pebisnis, sampai orang biasa dan tentu saja saya. Semuanya juga bisa bicara tentang nurani.
Berkata lantang, bahwa hidup ini harus mengedepankan nurani.
Kata-kata boleh penuh dengan nurani, tapi tindakan kebanyakan membelakangi nurani. Boleh jadi memang sudah menggunakan nurani dalam bertindak. Namun yang digunakan adalah nurani imitasi.
Tak heran apa yang dilakukan bukan penuh dengan kebenaran . Tapi yang ada selalu penuh dengan pembenaran-pembenaran.
Nurani memang masih ada di tempatnya, tetapi segala kebajikannya telah dimatikan berganti kebajikan yang semu.
Mengapa selalu ada kepalsuan dari hari ke hari?
Manusia menjadi tidak manusiawi dengan nuraninya yang imitasi. Karena terbiasa hidup menggunakan hatinya yang palsu, lama-kelamaan menjadi karakter kebanyakan manusia.
Akhirnya manusia nyaman hidup dalam kepalsuan dengan perbuatan yang tidak lagi sesuai kehendak Ilahi.
Namun semua sangat dinikmati, karena dianggap mendatangkan kebahagiaan.
Sebaliknya hidup dalam keaslian nurani, kebanyakan manusia justru merasa risih dan malu karena menjadi tertawaan.
Katanya tidak gaul dan tidak sesuai jaman.
Berani hidup sesuai nurani yang sejati, bisa-bisa mendatangkan celaan dan makian, karena akan dianggap sok baik dan alim alim.
Bayangkan, untuk menjadi orang baik saja bukannya mendatangkan kemudahan dan dukungan. Namun justru akan menerima cobaan dan tantangan yang lebih berat.
Karena itu, tidak sedikit manusia yang memiliki keinginan hidup mengikuti nurani, harus mengalah pada keadaan.
Begitulah pada hari-hari ini nurani yang adalah pusaka tertinggi yang dimiliki manusia terbenam dalam jurang hati yang entah berapa dalamnya, sehingga sulit untuk bersuara lagi.
Kini berganti nurani imitasi berisi keakuan yang semakin tinggi. Semuanya berbicara tentang aku. Aku adalah segala-galanya.
Kerendahan hati semakin sulit dicari, karena lebih mementingkan diri sendiri untuk merasa yang paling lebih.
Hati mengasihi sudah tidak lagi mengisi rongga hati berganti ketidakpedulian.
Saling membenci lebih menjadi pilihan.
Maaf, ini bukan untuk menggurui, tapi lebih untuk menggambarkan keadaan diri ini sendiri.
Kini aku sadar, ternyata nurani yang kugunakan selama ini adalah imitasi!
Akan tetapi…… siapa yang peduli?
Sumbangsih