KENAPA KITA LEBIH SIBUK DENGAN URUSAN ORANG LAIN???

22 Oct 2009

Tiba-tiba saya teringat sebuah lelucon yang sering saya gunakan dulu untuk membuat suasana ramai. Dan teman-teman rata-rata mau tak mau tertawa juga . Dan saya sendiri kalau mengingatnya suka geli sendiri. Memang hanya sebuah lelucon saja. Tapi saat ini setelah saya ingat lagi rasanya ada sebuah makna lain yang bisa dipetik selain mengendurkan ketegangan. Oleh sebab itu saya terinspirasi menuliskannya kembali. Sayang untuk dilewatkan.

Leluconnya dulu dong ;

Ceritanya tentang seorang sahabat yang kebetulan orang Madura. Suatu hari naik motor, karena terburu-buru, lampu merah dilewati juga. Tanpa disangka ada polisi yang melihat kelakuannya. Priiitt! Suara peluit pak polisi menghentikan laju motornya.

Polisinya membentak, ” Kenapa lampu merah masih jalan juga?! Mana SIM dan STNK ? ” Teman kita diam saja dan mengeluarkan SIM dan STNK-nya. Tapi polisinya tambah marah karena STNK-nya tidak sesuai dengan motor yang dikendarai begitu juga dengan SIM itu bukan miliknya.

“Anda ini gimana sih, STNK dan SIM ini bukan milik Anda, ” hardik polisinya, yang lagi tidak marah saja sudah sanggar dengan kumisnya.

Tapi teman kita ini tak mau kalah, “Sampeyan ini gimana sih pak polisi?! Wong saudara saya yang STNK dan SIM-nya saya pinjam saja tak marah, kenapa justru pak polisi yang marah-marah!!! Heran aku!”

Iya, ya. ? Tapi jangan tertawa dulu! Nanti pak polisinya bisa tambah marah. Saya hanya ingin sedikit sharing tentang kata-kata ini ‘SAUDARA SAYA YANG PUNYA SAJA TIDAK MARAH, KOK ANDA YANG MARAH’ Kadang kita yang tidak ada urusan dalam suatu masalah justru kita yang repot dan bermasalah.

Seperti kejadian yang pernah saksikan dijalanan, saat terjadi tabrakan antara teman saya dengan kendaraan dibelakangnya. Saat dua-duanya turun dan sudah berdamai, justru tiba-tiba orang-orang berdatangan. Beberapa diantaranya dengan muka yang sanggar, ingin ikut ‘membantu’ menangani masalah yang terjadi. Yang punya masalah saja tak apa-apa, malah yang tidak tahu masalahnya yang ingin cari masalah.

Atau saya yang bervegetarian ini merasa sehat-sehat saja, malah saudara dan teman yang kepusingan takut saya kekurangan gizi katanya. Padahal mungkin fisik saya lebih kuat dari mereka.

Pernah juga karena saya dijelekkan oleh rekan kerja, istri saya jadi tidak senang dan agak marah_mungkin karena saking cintanya ya? _sedangkan tak apa-apa dan berkata, tak apalah, biarkan saja dia menggunakan mulutnya!

Masih ada lagi, kita begitu sinis melihat perbuatan orang lain yang salah dan menganggap mereka orang berdosa. Si A salah ini, si B salah itu, si C dosanya banyak, si D moralnya bejat. Begitu pintarnya kita menghitung kesalahan orang. Tetapi kesalahan sendiri tak disadari lebih banyak lagi.
Seharusnya alangkah bijaksananya kita saat melihat orang lain melakukan sebuah kesalahan, kita bertanya pada diri sendiri, apakah saya juga pernah melakukan hal yang sama?
Melihat kesalahan orang lain bagaikan kesalahan diri sendiri. Sebelum bisa mengurusi epis sendiri, buat apa mengurusi orang lain?

Maafkan saya terlalu mengurusi masalah lelucon ini!


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post