MENGALAH PUN, PERLU PERJUANGAN!

28 Oct 2009

Suatu hari saya katakan pada seorang teman, agar ia menengok blog saya dan memberikan dukungan agar tambah semangat saya menulis. Saat ia tahu judul blog saya ‘CATATAN @ SEORANG PEMENANG ‘ ia sedikit memberikan masukan. Dalam hidup ini bukankah seharusnya kita bisa selalu mengalah, bukannya jadi pemenang. Bisa-bisa nanti malah jadi sombong mentang-mentang merasa seorang pemenang terus.
Apakah benar demikian?

Ini sebenarnya tergantung masalah sudut pandang saja. Maksud dan tujuan utama saya membuat blog itu dengan kata - kata seorang pemenang, adalah karena waktu itu saya sedang dalam keadaan yang kalah. Dikalahkan oleh masalah dan persoalan hidup sehari-hari, dari masalah pekerjaan sampai masalah rumah tangga . Jadi timbul suatu motivasi dalam diri saya, bahwa saya harus jadi pemenang terhadap masalah hidup saya itu . Bukan menang untuk mengalahkan siapa pun. Jadi dalam arti menang namun tidak mengalahkan. Kalah soal mengalah, saya katakan bisa mengalah itu adalah sifat seorang pemenang.
Lho, kok bisa?

Karena untuk menjadi seorang yang bisa mengalah itu tidak mudah, tapi sungguh memerlukan sebuah perjuangan yang luar biasa untuk bisa mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan ego, rasa kesombongan kita yang begitu tinggi . Setiap manusia memiliki ego kesombongan dan itu telah lama menguasai hidup kita.

Bagaimana seorang boss rela untuk mengalah pada anak buahnya. Apakah bisa seorang majikan mau mengalah pada pembantunya? Apakah seorang pejabat bisa mengalah pada penyapu dijalanan? Tak akan bisa kalau ego kesombongan masih melekkat padanya. Karena sang ego akan cepat-cepat berteriak mengingatkan, “Tidak pantas kau lakukan itu, memalukan saja tuanku! “

Akhirnya malu dan gengsi yang bicara, Tak heran ribuan tahun yang lalu para Nabi sudah membicarakan hal ini, barang siapa yang bisa mengalahkan dirinya ia adalah pemenang sejati. Ia walaupun bisa mengalahkan ribuan prajurit di medan perang, tapi kalau ia belum bisa menaklukkan dirinya sendiri, ia belum kuanggap sebagai pemenang. Jadi, apalah artinya bila kita diluar sana jadi pemenang dalam berbisnis misalnya, namun dirumah kita jadi pecundang karena tidak bisa mengalah pada suami atau istri sendiri atau pada anak kita, bahkan juga pada tukang kebun dan pembantu kita. Itu hanya sebuah kemenangan palsu yang hanya bernilai sementara saja.

Saat berbicara sesuatu hal, siapa yang tahan untuk tidak terpancing berdebat. Apalagi pendapat kita itu benar. Maka ego akan segera bicara, teruskan jangan sampai mau kalah, wong pendapat kamu benar kok. Teruskan bikin lawanmu kalah dan malu, sehingga kamu bisa mendapat kebanggaan. Haruskah begitu? Oke, katakanlah pendapat kita itu sudah benar, bukankah kita bisa menundanya dahulu dan mencari waktu yang tepat kemudian menjelaskannya dengan cara yang benar. Bukankah lebih baik, tanpa harus bersilat lidah yang membuat muka merah dan naik darah?

Demikianlah sahabatku yang baik penjelasannya. Aku lihat ia hanya bisa mengangguk-gangguk, bukan karena mengerti, tapi ternyata ia tertidur dari tadi tanpa kusadari. Ingin kumaki rasanya, tapi ada bisikan yang mengingatkan, “Hey, sadarilah, penjelasan ini sebenarnya untuk dirimu!”

Ooohhh. . . Ternyata?!


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post