Marah, Introspeksi Diri, Atau Maafkan Saja?!

3 Apr 2010

Bila hanya mengikuti perasaan, maka amarahlah yang seringkali berbicara. Tetapi bila selalu menggunakan hati, maka akan bisa selalu beristrospeksi diri untuk dapat memahami suatu permasalahan yang dihadapi….

Tengah malam sebelum menuju pembaringan setelah seharian berkutat dalam pekerjaan , saya berpesan kepada seorang karyawan untuk mengerjakan sebuah tugas .Karena ada tugas mendadak dari boss. Saya juga mengingatkan jangan sampai lupa, karena penting .
Ia mengiyakan dengan yakin tanpa ada reaksi apa-apa .

Tetapi ketika paginya saya periksa hasilnya , alangkah terkejutnya, ternyata pesan saya itu belum dikerjakan juga.

Apa reaksi kita bila menghadapi kenyataan yang demikian ? Saya yakin sebagian besar adalah timbul amarah ! Begitu juga dengan saya. Timbul sedikit amarah sambil geleng - geleng kepala . Tetapi apa yang mau dimarahi , karena mungkin orangnya sedang enak-enak tertidur di rumah .
Kita seringkali berpendapat , adalah wajar apabila marah terhadap sebuah kesalahan yang dilakukan orang lain . Dengan demikian agar ia dapat menyadarinya kesalahannya .

Tetapi dilain sisi , apakah kita juga ada menyadari dan bertanya ,jangan - jangan kesalahan yang dilakukan orang lain tersebut adalah akibat dari kesalahan kita ? Oleh sebab itu saya segera berintrospeksi . Apakah penyampaian saya salah atau ada sebab lain sehingga ia tidak melaksanakan tugas dari saya ?

Untuk penyampaian , setelah saya ingat-ingat sepertinya sudah sangat jelas. Lalu ?

Lalu saya segera mengingatkan dan tersenyum sendiri , mungkin ada sebab lain dan saya segera mengatakan pada diri sendiri , kalaupun itu sebuah kesalahan , maafkanlah , apa salahnya ?!

Karena apabila setiap masalah ditanggapi dengan kemarahan , walaupun kita merasa berhak untuk ,tetap bukanlah suatu sikap yang bijaksana .

Kemarahan kadangkala justru adalah upaya untuk menutupi kesalahan kita sendiri.
Pada akhirnya kemarahan adalah juga dapat menutupi mata hati kita untuk bersikap benar dan seharusnya.
Sebab ketika amarah mulai muncul yang ada adalah ego kita yang berbicara , bukan hati lagi ! Kita manusia punya hati, mengapa bukan itu yang seharusnya digunakan?


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post