Dia Bukan Kartini, Tetapi Wanita Sejati Bernama Tini!

21 Apr 2011

Keadaan hidup yang susah, tidak menjadi alasan untuk tidak menjaga kesetiaan sebagai seorang istri dan ibu yang mencintai anak-anaknya.

*

Berbicara tentang emansipasi tentunya tak lepas dari sosok pejuang wanita bernama R.A. Kartini. Karena perjuangannya, wanita Indonesia sedikit banyak mengerti akan kesetaraannya sebagai makhluk Tuhan.

Tapi yang aku kenal ini, namanya bukan Kartini, seorang wanita pahlawan Indonesia yang dikenal luas karena perjuangannya.
Wanita yang menginspirasi banyak wanita lainnya di negeri ini.

Wanita yang aku kenal ini hanya wanita biasa dan tidak terkenal. Bukan wanita karier dan bukan juga wanita aktivis.
Asli, hanya seorang wanita ibu rumah tangga biasa.

Penampilan dan wajahnya pun biasa-biasa saja. Hidup bersama seorang lelaki yang juga biasa.
Saking terlalu biasanya, ketika kutanyakan tentang Kartini, ia hanya menggeleng kepala dan bertanya,”Siapa dia, pak? Teman bapak ya?!”

Namun bagi saya, wanita ini benar-benar sosok yang luar biasa mengarungi hidupnya. Walaupun hanya tamatan SD namun tidak membuatnya harus merasa bodoh untuk mengarungi kehidupannya.

Walaupun ia tidak mengerti tentang emansipasi wanita dan sosok Kartini, tetapi semangat juangnya luar biasa untuk menghidupi keluarganya.

Mengapa wanita ini mesti bersusah payah mencari nafkah sendiri?

Sebab suami tercinta tak berdaya untuk mencari nafkah, terkena lumpuh dan harus melewati harinya di atas kursi roda. Sedangkan dua anaknya harus bersekolah. Seorang putra berumur 10 tahun dan seorang lagi wanita berumur 8 tahun.

Dengan modal tersisa dan seadanya, wanita ini memulai usaha berjualan sayur keliling dengan gerobak. Berkeliling kompleks menemui langganannya setiap hari.

Tak heran, karena usahanya ini, badannya tampak kekar dan atletis. Kulitnya menjadi gelap terbakar matahari.
Penampilan dirinya tak begitu terurus lagi, karena kosmetik hampir merupakan barang langka di rumahnya.

Aku tak bisa membayangkan, bagaimana wanita ini membagi waktunya untuk semua aktivitas yang harus ia lakoni?! Antara mengurus suaminya yang lumpuh, dua anaknya yang harus bersekolah, dan mempersiapkan dagangan sayurnya untuk para pelanggan.

Akhirnya aku tahu, wanita pedagang sayur itu bernama Bu Tini, asli dari salah satu daerah Jawa Tengah.
Dulunya terpaksa harus ikut suaminya merantau ke Jakarta karena hidup di kampung sudah tak bisa diharapkan.

Suaminya sebelum terkena sakit lumpuh adalah kuli bangunan yang bekerja diberbagai proyek besar di Jakarta. Tetapi karena kecelakaan, akhirnya tidak memungkinkan lagi untuk terus bekerja.

Tentu hal ini mau tidak mau memaksa Bu Tini memulai perjuangan untuk menafkahi keluarganya. Karena kini, ia harus mengambil alih tugas suaminya.
Tidak mudah memang, tetapi Bu Tini bertekad untuk terus berjuang mencari nafkah dan terus berusaha menyembuhkan penyakit suami dengan berbagai pengobatan alternatif.

Satu hal adalah Bu Tini tidak lupa berdoa dan ikhlas menerima keadaan yang harus dialaminya.
Tetap bersyukur, mencintai suami dan mengajarkan kejujuran kepada kedua anaknya.

Demi untuk menyekolahkan anak-anaknya terkadang Bu Tini harus mencari tambahan pekerjaan. Bu Tini bertekad, kelak anak-anaknya harus bisa bersekolah dan memiliki budi pekerti.
Bu Tini selalu mengingatkan kepada kedua anaknya agar rajin beribadah dan bersyukur pada Tuhan.

Bagiku, Bu Tini sungguh wanita luar biasa. Kesetiaan sebagai seorang istri dan tanggung jawab sebagai ibu terus dijalankan dengan semangat yang luar biasa.
Ia melakukan semua itu dengan ikhlas sebagai seorang wanita sejati bukan karena semboyan emansipasi wanita.


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post