Pak Presiden, Tahu Dirilah! Tolong Balas Budi Kami!

19 May 2011

Terpaksa aku mengatakan, bahwa ketika menulis cerita ini, aku sedang mengalami amnesia, sehingga banyak hal yang tertulis tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Akibat amnesia yang aku alami, banyak sekali kejadian dalam kisah ini menjadi asal tulis.

Entahlah kisah ini terjadi di negara mana, aku lupa sama sekali lokasinya.
Tahu-tahu kisah ini dimulai pada saat sedang terjadi pesta kemenangan, karena Sang Calon Presiden resmi terpilih menjadi presiden.

Sang Calon Presiden yang gagah dan ganteng meraih kemenangan mutlak atas lawannya. Selain ganteng dan digandrungi ibu-ibu, pencitraan atas Sang Calon Presiden berjalan sukses. Seakan banyak rakyat yang terhipnotis untuk menyoblosnya saat pemilih.

Ucapan selamat berdatangan dan Sang Presiden menyambut dengan wajah yang sumringah.
Sejak hari itu beliau dipanggil “Pak Presiden”.
Para pendukung bersorak-sorai mengadakan pesta kemenangan dan berharap banyak pada Pak Presiden atas janji-janjinya saat kampanye.

Mengentaskan kemiskinan, mengurangi pengangguran, dan memberantas korupsi, itulah janji manis Pak Presiden pada rakyatnya.

Kemenangan Pak Presiden tentu tidak lepas dari para pendukung dan tim suksesnya. Baik tenaga dan dana mengalir untuk mendukung kemenangan Pak Presiden.
Tentu semua itu tidaklah cuma-cuma diberikan, karena pasti berharap ada timbal baliknya dari Pak Presiden.

Atas kemenangan calon usungannya menjadi presiden, para pendukung ini juga berpesta, karena berharap akan mendapatkan balasan yang setimpal dari Pak Presiden.

Pak Presiden hanya bisa menikmati senyumannya sehari-dua hari. Setelah itu seharusnya Pak Presiden mulai menggunakan seluruh kemampuan dan energinya untuk memikirkan rakyat yang memilihnya dan memenuhi janjinya saat kampanye.

Tapi bukan itu yang terjadi. Karena Pak Presiden mulai lebih memikirkan acara balas budi yang sebenarnya tidak pernah dijanjikannya.
Selain merasa tak enak hati, ada juga para pendukung yang tidak malu-malu meminta balas budi karena merasa paling berjasa atas kemenangan Pak Presiden.

“Pak Presiden, tahu diri dong, balas budi kami!” Teriak sebagian para pendukung yang haus kekuasaan dan tak sabar agar Pak Presiden memberikan jatah kedudukan.

Mau tak mau Pak Presiden harus mengalah pada nuraninya dan berusaha untuk membalas budi.
Akhirnya masalah balas budi ini yang lebih banyak menguras pikiran dan tenaga Pak Presiden daripada memikirkan rakyatnya yang masih hidup dalam kesusahan.

“Pak Presiden, tahu dirilah, tolong balas budi kami!” Teriak sebagian para pendukung yang belum mendapat bagian atau kedudukan.
Lagi-lagi hal ini menjadi beban pikiran Pak Presiden.

Gara-gara kebanyakan kebanyakan memikirkan urusan balas budi Pak Presiden jadi kurang tidur. Menjadi maju kena mundur kena untuk bekerja.
Pak Presiden hanya bisa berkata tegas tapi tidak bisa bertindak tegas.

Sebenarnya Pak Presiden untuk berteriak atas keadaannya. Tapi apa boleh buat tahir kambing bulat-bulat mesti ditelan juga. Maksud mau marah terpaksa menelan air ludah saja.

Akibat terlalu banyak memikirkan masalah balas budi, Pak Presiden tidak bisa bekerja sepenuhnya. Pengangguran dan kemiskinan bertambah. Korupsi masih juga merajalela.

Tapi untunglah para tim sukses masih cukup sukses mencitrakan Pak Presiden sebagai presiden yang sukses melakukan perang terhadap korupsi.
Berhasil mengurangi kemiskinan dan pengangguran dengan data-data yang menjlimet.

Cukup sukses membodohi sebagian rakyat bahwa Pak Presiden adalah seorang pemimpin yang sukses membawa perubahan pada negerinya.

Acara balas budi memang cukup memusingkan Pak Presiden, sehingga beliau terinspirasi menciptakan sebuah lagu “Jangan Kau Menagih Janji, Aku Tak Pernah Berjanji!”

Kabar terakhir, lagu tersebut akan dinyanyikan Budi Handuk dan Intan Nuraini pada ulang tahun cucu Pak Presiden.


TAGS


Comment
  • minuman 6 years ago

    artikel tentang dunia politik yang menarik.. nice blog… salam sukses

-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post