Pejabat Licik = Rakyat Hidup Tercekik

26 Oct 2011

“Apabila para pejabat menjadi licik, rakyat akan menderita. Apabila para pejabat polos, tulus, dan sederhana, maka rakyat akan sejahtera.” TAO TE CING

#
Apa yang terjadi pada rakyat di negeri yang kekayaan alamnya melimpah bernama Indonesia?
Kenyataan yang ada hanya sebagian saja yang sejahtera. Lebih banyak rakyat yang menderita.

Apa sebabnya rakyat tidak dapat serta menikmati kekayaan alamnya yang melimpah?
Sebab para pejabat di negerinya lebih banyak yang berakal licik. Lebih memikirkan dirinya sendiri dan keluarganya.

Dengan kelicikan yang mereka miliki, mereka berusaha membuat sejahtera dirinya. Dengan janji-janji manis agar rakyat memilihnya menjadi pejabat. Lalu dengan licik membohongi rakyatnya.

Tak heran dengan kelicikan mereka mencuri milik rakyatnya. Mereka bisa hidup enak dan nyaman. Sementara rakyatnya tetap hidup kekurangan.

Kekayaan alam yang seharusnya dapat untuk membuat sejahtera rakyatnya. Dikuras habis demi untuk memperkaya para pejabatnya yang licik. Sementara rakyatnya hidup dalam kemiskinan.

Pengemis dan gelandangan terlantar di mana-mana. Harus dengan cara-cara licik pula untuk mempertahankan hidupnya. Padahal seharusnya mereka adalah tanggung jawab negara. Tapi ternyata mereka hanya dianggap sampah masyarakat saja.

Rakyat yang hidup dalam kemiskinan tetap saja banyak. Di mana ada pembagian sembako gratis selalu menjadi rebutan. Bahkan yang mampu tetap saja tak malu untuk ambil bagian.

Banyak rakyat miskin. Demi untuk mempertahankan hidupnya dan untuk memperkaya diri. Melakukan hal yang licik. Menipu dan membohongi. Ini karena mereka juga meneladani para pejabatnya.
Yang saling berebut kekayaan daripada menyebarkan kebajikan.

Tepat seperti yang dikatakan Konfusius,“Kebajikan itulah yang pokok dan kekayaan itulah yang ujung. Bila mengabaikan yang pokok dan mengutamakan yang ujung, inilah meneladani rakyat untuk berebut.”

Kita boleh bersedih dan menangisi. Apa yang dikatakan Konfusius, persis sedang terjadi di negeri tercinta ini. Sungguh sulit menemukan pejabat yang polos, tulus, dan sederhana. Kenyataan para pejabat dipenuhi akal licik untuk mengembalikan modalnya. Urusan kesejahteraan rakyat menjadi nomor sekian.

Bahan-bahan pokok yang merupakan kebutuhan rakyat. Sekarang banyak yang harus impor. Karena kekurangan produksi. Sungguh aneh memang. Bukannya prihatin. Hal ini justru merupakan kesempatan bagi para pejabat untuk menambah penghasilan.

Begitulah kemudian rakyat harus menanggung penderitaan. Kesejahteraan yang dijanjikan seperti hanya mimpi saja.
Kebutuhan hidup semakin tinggi. Beras saja mahal di negeri agraris. Garam pun harus impor. Kentang tak mau kalah minta diimpor juga.

Kalau rakyat miskin semakin menderita. Para pejabat semakin kaya. Bersiap-siaplah bila rakyat terpaksa dengan paksa merebut miliknya dengan amarah.


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post