Kenapa Guru Agama harus Meledek Agama Lain?

31 Mar 2013

Soal ledek-meledek atau saling merendahkan dan saling mengklaim sebagai yang terbaik sudah biasa di antara umat beragama. Seperti perang iklan kecap saja.

Kecenderungan ini terjadi lebih karena untuk membesarkan ego masing-masing saja. Menunjukkan ketidak-mengertian akan kebenaran agamanya sendiri. Itulah sebabnya sampai perlu merendahkan atau menghina agama lain.

Silakan saja bila hendak mengagung-agungkan kebenaran agama sendiri. Kabarkan pada dunia. Sebarkan ke seluruh penjuru alam. Itu adalah kewajiban. Tapi tidak seharusnya dengan menistakan agama lain.

Soal ledek-meledek agama lain. Baru saja si Dede curhat sama saya. Karena ia bersekolah di negeri dan ikut belajar pelajaran agama satu-satunya di sekolah. Yakni agama Islam.

Si Dede mengeluhkan,”Parah banget guru agama di sekolah Dede. Gurunya ngeledek sama agama lain.”

“Ngeledek gimana?” pancing saya.

Lalu si Dede bercerita,”Gurunya bilang kalau orang Islam itu banyak pahalanya. Salat aja sehari lima kali. Coba agama yang itu _si Dede menyebutkan sebuah agama_ sembayangnya aja cuma seminggu sekali. Gimana ada pahalanya?”

“Gurunya bilang gitu, De?” tanya saya penasaran sambil senyum-senyum.

“Pokoknya Gurunya ngeledek banget deh, Pi!” sahut si Dede.

“Kenapa Dede gak langsung protes aja?” tantangan saya yang spontan dijawab si Dede,”Dede diam aja. Soalnya di kelas aja Dede dicuekin.”

Ya ampun! Kenapa seorang guru sampai harus mengajarkan murid-muridnya pelajaran untuk meledek atau mengejek agama lain?

Kenyataannya, apakah guru-guru agama lain mengajarkan hal yang sama kepada murid-muridnya? Mengapa tidak?

Tidak heran, urusan saling meledek dalam beragama masih ada di sekitar kita. Pelajaran tentang ‘Bhineka Tunggal Ika’ seakan hanya jadi omongan kosong saja.

Loh, kok saya jadi ikutan meledek gurunya si Dede dengan menuliskan hal ini


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post