Omong Kosong Tentang Poligami

16 Jun 2013

Poligami lagi? Ya, tiba-tiba terpikirkan. Karena topik yang masih bisa dihangatkan dan belum ada yang bosan. Buktinya masih ada yang menulis dan terjadi silang pendapat.

Apa saya sedang berniat poligami? Jangan sembarangan. Masih banyak yang lebih penting untuk dipikirkan.

Maaf, saya tidak menentang poligami pun tidak menyetujui. Jadi yang mau silakan. Yang tidak mau silakan. Tidak ada urusan dengan saya untuk setuju atau tidak.

Bukankah tulisan ini hanya mau omong kosong saja. Namanya omong kosong ya berarti omongannya tidak ada isi.

Namanya omong kosong suka-suka yang omonog. Setelah itu ramai-ramai diteriaki. Dasar gombal.

Yang berniat poligami tentu saja setuju dan membawa dalil-dalil kebenaran untuk mendukungnya. Sudah pasti.

Yang tidak berniat atau menentang pun akan sama langkahnya. Akhirnya adu argumen. Ramai jadinya.

Yang menentang poligami salah satu alasannya adalah sulit atau bahkan tidak mungkin bisa berlaku adil.

Sebenarnya menurut saya bisa saja. Tapi satu di antara seribu. Yang penting ada yang bisa. Yang 999 omong kosong.

Tapi kalau mau jujur. Sebenarnya yang monogami sendiri pun belum tentu bisa berlaku adil. Bisa saja ada yang waktu bercumbu dengan istri satu-satunya sambil membayangkan calon atau selingkuhannya. Itupun sudah tidak adil bukan? Cuma separuh jiwa.

Bagi saya sih bukan masalah adil atau tidaknya. Yang masalah itu adalah omong kosongnya.

Ini berdasarkan fakta yang ditemukan alasan para lelaki berpoligami dengan mencatut nama nabi. Agama tidak melarang Berpoligamilah dengan gagah.

Padahal alasan yang sesungguhnya cuma untuk menyalurkan keperkasaan kelelakiannya. Sementara wanita yang rela dipoligami alasan mendesaknya adalah demi uang yang ditawarkan si lelaki. Saling menguntungkan memang. Tidak ada rugi bagi keduanya.

Istri tua yang rugi. Karena semakin terasa sepi menunggu suaminya yang sedang berbulan madu. Jarang-jarang pulang. Lama-lama menghilang.

Saya sendiri sebenarnya banyak tawaran yang datang. Kiri-kanan ada yang memberikan bisikan macam-macam sebagai mak comblang. Benar-benar menggoda. Tapi omong kosongnya belum ada selera.

Kalau ada survei dan semua lelaki yang berpoligami mau jujur, maka akan ditemukan jawaban bahwa lebih banyak omong kosongnya dari tujuan berpoligami. Lebih banyak yang karena nafsu dibandingkan tujuan mulia melaksanakan ajaran agama.

Kenapa bisa tahu?

Sebab saya lelaki dan saya bisa yakin minimal ada lima puluh persen lelaki yang isi otaknya seperti saya. Bedanya saya belum berpoligami tapi sudah berpikiran seperti itu.


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post