Belajar dari Sikap Tidak Melawannya Thamrin Tomagola

30 Jun 2013

Terlepas dari sikapnya yang dianggap ketidak-sopanan sebagai pemicu emosi Munarman, hingga terjadinya penyiraman teh di sebuah acara takl show televisi swasta.

Sikap Thamrin Amal Tomagola, Profesor Sosiologi Universitas Indonesia kelahiran Galela, Halmahera Utara, 17 April 1947 patut mendapat apresiasi. Salut dengan tidak terpancing emosi.

Bukan hanya diam dan tak membalas balik menyiram atau memukul. Tapi juga tidak ada niat untuk melaporkan kasus ini ke kepolisian.

Saya membayangkan, andai saja kejadian itu saya atau yang Anda alami sendiri. Kemungkinan besar reaksi spontannya adalah membalas. Bukan dengan siraman air teh lagi. Tapi langsung gelasnya yang dilempar ke muka.

Tidak peduli itu anak jenderal. Urusannya yang penting balas dulu. Kalau ada masalah urusan belakangan.

Sulit rasanya tidak akan membalas kalau diserang duluan sebagai sikap membela diri. Apalagi dalam suasana yang panas.

Saya yakin, banyak yang melihat kejadian itu yang gregetan. Kenapa Thamrin tidak membalas perlakuan Munarman yang telah mempermalukan dirinya.

Pun setelah kejadian tidak terbawa emosi untuk memperkarakan kasus ini. Malah ada pihak lain yang marah hendak membalas dan menuntut.

Sikap Sosiolog Thamrin yang tetap tenang duduk di tempatnya pasti membutuhkan pengendalian diri yang tinggi.

Apa karena takut? Kalau hati sudah panas rasanya tidak ada lagi rasa takut. Apa Sang Profesor menyadari kesalahannya yang telah memancing kemarahan lawannya bicaranya?
Yang namanya berdebat umumnya memang tensinya tinggi.

Satu-satunya dalih Thamrin adalah tidak ingin melayani gaya premanisme yang dipertunjukkan Munarman. Kalau melayani artinya akan jatuh dalam kesalahhan yang sama.

Sikap tidak melawan secara langsung ketika dipermalukan di depan publik setidaknya menunjukkan kebesaran jiwa seorang Thamrin.

Dengan tidak melawan secara frontal justru Thamrin sedang mempertahankan harga dirinya. Bukan sebaliknya.

Andaikan beliau saat itu melawan dengan membalas menyiram malahan akan mempertunjukkan kebodohan. Salut sekali lagi, Profesor Thamrin tidak melakukannya.


TAGS


Comment
-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post