Jokowi: Pemimpin Itu Sejajar dengan Rakyat

1 Jul 2013

Menurut Jokowi, pemimpin ang baik itu adalah pemimpin yang bisa bersikap horizontal dengan rakyatnya. Mau menyejajarkan dirinya dengan rakyat, sehingga dapat mengetahui permasalahan yang dihadapi rakyat.

Jokowi menyampaikan hal ini dalam sebuah seminar kebangsaan bertajuk Memimpin dengan Hati di Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta belum lama ini.

Sekarang sulit kita menemukan pemimpin yang mau menempatkan dirinya sebagai bagian dari dari yang dipimpinnya. Hubungan yang terjadi antara pemimpin dengan rakyat lebih ke hubungan yang vertikal.

Pemimpin menempatkan dirinya di tempat yang tinggi dan rakyat adalah bawahan. Dengan demikian pemimpin lupa diri dengan kedudukannya yang sejatinya melayani rakyat. Sebaliknya mereka justru berharap rakyat yang melayaninya.

Itulah sebabnya terjadi hubungan yang tidak harmonis antara pemimpin dan rakyatnya. Banyak pemimpin yang tidak mengerti kesulitan dan masalah yang ada.

Karena enggan turun ke bawah. Tidak mau langsung turun ke bawah untuk mengetahui permasalahan secara langsung. Ini realita kepemimpinan yang ada di negeri kita.

Joko Widodo (Jokowi) mantan Wali Kota Solo yang kini menjabat Gubernur Jakarta hadir memberikan kecerahan dalam kepemimpinan di negeri kita. Pemimpin yang benar-benar mau turun ke bawah dengan gaya blusukannya.

Jokowi mau membaur dan bicara dengan warga yang dipimpinnya. Mau tahu masalah yang dihadapi secara langsung. Jokowi berusaha menempatkan dirinya sejajar dengan rakyat yang dipimpinnya.

Tidak heran, gaya kepemimpinan Jokowi menarik simpati rakyat. Kerinduan akan pemimpin yang merakyat terhadirkan pada sosok Jokowi.

Jokowi bukan hanya dikenal warga Solo dan Jakarta. Tapi sampai ke pelosok ujung negeri. Jokowi dikenal di mana-mana dan rakyat mengharap ada pemimpin model Jokowi di daerahnya.

Pada kesempatan yang sama Jokowi juga mengatakan, bahwa pemimpin itu harus berani membuat terobosan dan inovasi. Untuk kepentingan rakyat harus berani mengambil kebijakan.

Jokowi menyentil, bahwa bangsa kita dalam hal rencana sangat pandai. Tapi acapkali telat dalam merealisasikan. Akhirnya hanya jadi mimpi. Pemimpin gemar memberi janji. Namun jarang menepati.

Persepsi tentang pemimpin di negeri kita memang perlu dikembalikan ke jalurnya. Bahwa pemimpin itu adalah untuk melayani rakyat bukan dilayani. Bahwa pemimpin itu sejajar dengan rakyat. Bukan di atas yang menyebabkan adanya jarak.

Sumber Berita


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post