Jenderal itu Akhirnya Menangis

30 Aug 2013

Ruang sidang Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta-Selasa 27 Agustus 2013 jenderal yang menjadi tersangka kasus korupsi proyek simulator uji kemudi dan pencucian uang itu terisak-isak menahan tangis saat membacakan nota pembelaan atas tuntutan jaksa yakni pidana penjara 18 tahun, denda Rp 1 miliar, dan membayar uang pengganti Rp 32 miliar.

Seorang jenderal menangis? Selagi jenderal itu masih seorang manusia, tiada larangan untuk menangis. Karena menangis adalah bagian dari kehidupan karena manusia masih memiliki perasaan.Jadi menangis adalah hal yang wajar dan bisa terjadi pada siapa saja.

Orang bisa menangis karena beberapa sebab. Akibat kesedihan yang mendalam misalnya atau karena kepura-puraan untuk mencari simpati. Menangis karena terharu atau menangis oleh sebab bahagia pun bisa terjadi. Menangis juga bisa karena tertekan atau diperlakukan tidak adil.

Inspektur Jenderal Djoko Susilo tersangka korupsi itu memang wajar bila menangis membawa-bawa istri dan anak lalu juga membawa nama Tuhan untuk mendapat simpati publik atas nama kemanusiaan. Tentu khususnya para hakim yang akan memutuskan perkaranya.

Adalah wajar dalam posisinya saat ini sang Jenderal merasa diperlakukan tidak adil. Bahkan hukuman 18 tahun penjara dianggap bagaikan kiamat. Karena dakwaan jaksa dianggpanya tidak benar sama sekali.

Begitulah kita manusia dalam keadaan bersalah pun akan berusaha mencari pembenaran dan tak segan membawa nama Tuhan sebagai pembelaan untuk menghindari dari kesalahan.

Koruptor atau keluarganya menangis tersedu-sedu karena mendapat hukuman dan merasa tidak adil tanpa pernah mau tahu akibat uang yang mereka curi berapa banyak keluarga yang menangis dan mendapat ketidak-adilan. Luar biasa.

Jadi sangat-sangat tidak mengherankan bila para koruptor yang ditangkap tangan atau tertangkap basah pun tetap merasa tidak bersalah. Belum pernah rasanya mendengar ada yang dengan jujur, berani mengakui perbuatannya dan mengatakan layak untuk dihukum.

Padahal setiap tahunnya negara mengalami kerugian entah berapa banyak rupiah banyak yang sudah tahu dan ada faktanya. Tapi tak satu pun yang merasa mencurinya. Apakah siluman atau tuyul yang mengambilnya?

Yang terjadi pada kita umumnya adalah bahwa kita jarang sekali mau menangisi kesalahan yang telah kita lakukan. Tetapi lebih menangisi keadaan yang kita terima akibat kesalahan yang kita lakukan.Kemudian malah berbalik menyalahkan orang lain dan keadaan.Lupa akan esensi kesalahan diri.

Sejatinya karena hal ini sungguh kita pantas untuk menangisi. Itupun kalau masih ada air mata bening yang tersisa di dasar sanubari oleh sebuah kesadaran.


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post