Memahami Marahnya Ahok

4 Sep 2013

Secara umum kita berpandangan bahwa marah itu adalah tidak baik. Tetapi bila kita dalami dan pahami lagi sebenarnya ada kebaikannya juga di balik kemarahan itu. Kadang sebuah kemarahan malah lebih berguna dibandingan dengan puluhan nasehat dengan tutur kata indah. Satu kemarahan pada waktu dan keadaan yang tepat dapat menyadarkan seseorang dari kesalahannya seketika.

Kita jadi paham sekarang setelah sekian lama menyaksikan aksi marah-marah Wakil Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok selama ini. Padahal awalnya banyak yang marah juga dengan sikapnya. Tidak bisa terima seorang pejabat publik kerjanya cuma marah-marah setiap hari.

Tak heran sekarang gaya marah-marah Ahok justru banyak yang merindukan. Ngangenin istilahnya. Karena kita sudah paham bahwa marah-marahnya Ahok adalah pada sasaran yang tepat. Bukan sembarang melampiaskan kemarahan.

Kemarahan Ahok kita pahami karena kecintaannya pada negeri ini. Keinginannya akan sebuah keadaan yang lebih baik lagi di pemerintahan. Kemarahan Ahok pada jajarannya dapat kita pahami, karena kinerjanya dalam melayani masyarakat jauh dari standar. Kita jadi paham bahwa Ahok marah demi sebuah pelayan yang baik untuk masyarakat. Dimana sekarang rakyat bisa langsung merasakan manfaatnya.

Ahok marah-marah pada PKL, preman dan anggota dewan karena telah mengganggu ketertiban umum yang merugikan orang banyak demi keuntungan mereka sendiri. Kita jadi paham sekarang, sekarang hasilnya masyarakat banyak yang merasakan kelancaran lalu lintas di Tanah Abang.

Kita paham, kenapa juga Ahok marah-marah pada koruptor. Karena tidak rela uang negara yang seharusnya bisa bermanfaat banyak bagi rakyat cuma masuk ke kantong pribadi. Ahok marah karena anggaran yang ada dipermainkan.

Tidak heran sejak menjabat tidak sedikit anggaran yang dipangkas. Giliran mereka yang bermental koruptor yang marah-marah karena kehilangan obyekan. Walau marahnya di dalam hati atau di belakang tembok. Bisa juga anak-istri jadi sasaran kemarahan atau jangan-jangan dirinya yang kena marah istri di rumah karena setorran jadi kurang.

Kita paham kenapa Ahok masih juga marah sama Komnas HAM. Karena ternyata mereka bukannya menegakkan HAM malah mau membela dan melindungi orang yang sebenarnya melanggar HAM.

Sama halnya ketika Ahok marah-marah sama konglomerat yang menguasai Pekan Raya Jakarta dan tidak mau membayar biaya sewa stan Pemprov. Karena merasa selama ini sudah dikadali. Tak heran Ahok marah dan membuat PRJ tandingan di Monas.

Sekarang kita bisa menyimpulkan bahwa kemarahan Ahok memang masih dibutuhkan dalam mebenahi Jakarta. Ahok memang pantas marah untuk sebuah keadaan khususnya di Jakarta.

Bagi kita yang marah peduli pada keadaan negeri ini. Bukankah kita pun akan marah bila ada anggota dewan yang kerjanya membolos dan korupsi? Bukankah kita akan marah bila anggaran untuk pembangunan sekolah dikorupsi?

Pasti kita akan langsung naik pitam ketika mendapat pelayanan yang lelet dan bertele-tele ketika mengurus surat-surat. Pasti kita akan marah-marah juga ketika mengejar waktu dan pas melewati jalan yang dipenuhi PKL.

Apalagi Ahok yang memang temperamennya tidak sabaran menghadapi secara langsung keadaaan yang demikian.di lapangan. Beruntung sekarang banyak yang sudah paham. Terbukti banyak dukungan dan bersimpati berdatangan.


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post