Wajar Si Dul Mengendarai Mobil Sendiri

9 Sep 2013

Santai dan wajar, kan?@jarzyperdana.wordpress.com

Santai dan wajar, kan?@jarzyperdana.wordpress.com

Kalau saja si Dul atau Abdul Qodir Jailani anak dari pemusik Ahmad Dhani dan Maia Estianty tidak mengalami kecelakaan pada Ahad (8/9) dinihari yang heboh diberitakan banyak media.

Tentu si Dul akan masih bebas memacu kendaraannya di jalanan sambil tertawa tanpa ada yang menyalahkan atau hujatan ke AD sebagai orangtua yang lalai.

Sebagai anak orang punya banyak duit tentu Si Dul wajar-wajar saja menikmati hidup sesuai kehendaknya. Sebenarnya bukan si Dul saja yang menikmati keadaan ini.

Di sekitar kita juga masih ada yang orangtua yang membiarkan anaknya yang belum cukup umur berkeliaran di jalanan dengan mobil atau motor atas nama rasa sayang.

Dulu sekitar tahun 2002 saat saya berada di Batam hampir saja menjadi korban tabrak buntut oleh mobil yang dikendarai anak-anak.

Ketika itu saya hendak mendahului mobil yang sedang parkir di depan. Tanpa saya duga tiba-tiba mobil itu mundur dengan cepatnya sampai masuk ke dalam sungai. Beruntung saya sudah berada di jalur kanan, sehingga cuma bisa kaget.

Kemudian diketahui ternyata yang mengendarai mobil itu masih anak SMP. Meurut kabar si anak sudah biasa membawa mobil saat berpergian. Wajarlah, wong mobil yang parkir di depan rumahnya berderet kayak show room.

Mungkin orangtuanya merasa wajar kalau anaknya mengendadari mobil sendiri. Apalagi kalau si anak sudah memaksa dan pakai acara ngambek. Orangtua seakan tak punya kuasa lagi melarang.

Dalam hari-hari sekarang ini, kita sudah bisa melihat pemandangan yang wajar ketika anak-anak yang kakinya baru pas menginjak sadel sudah dibiarkan orangtuanya mengendarai sepeda motor.

Bukan pemandangan yang tidak wajar lagi sekarang ketika kita melihat anak-anak yang masih SMP mengendarai sendiri motornya ke sekolah. Saya malah pernah lihat yang masih berseragam SD pun tak mau kalah.

Ketika ada anak yang dengan kencangnya melewati pacuan motor saya, langsung bikin kepala ini geleng-geleng. Kenapa tega orangtuanya membiarkan si anak membawa kendaraan sambil membonceng adiknya lagi.

Sampai saya berpikir,”Ini namanya orangtua mencelakai anaknya sendiri. Kok gak mikir sih hal beginian dianggap wajar?”

Tidak mungkin saya pergi marah-marah ke orangtua si anak. Paling saya tidak membolehkan anak sendiri membawa kendaraan sendiri ketika belum punya SIM. Jalan keluarnya akan saya antar ketika ia hendak pergi. Apalagi istri sangat mendukung.

Sebenarnya bukan hanya dalam hal berkendaraan sebagian dari kita sudah menganggap sebagai hal yang wajar buat anak-anak.

Kita bisa temukan anak-anak sekarang bisa menggunakan berbagai gadget canggih yang sebenarnya belum mereka butuhkan. Tapi orangtua tak segan membelikan. Dianggap wajar mereka memilikinya. Sudah jamanya seperti ini.

Yang miris lagi jaman sekarang seakan menjadi hal yang wajar kalau anak-anak lebih berhak mengatur orangtuanya sendiri. Mereka mau apa harus dituruti.

Celakanya, atas nama kasih sayang orangtua menurut saja. Padahal tanda disadari apa yang dilakukan justru dapat mencelakakan anak sendiri.Banyak hal yang kita anggap wajar dalam hidup ini buat anak-anak sebenarnya adalah tidak wajar.

Jaman sekarang menjadi orangtua itu sejatinya memang semakin berat tanggung jawabnya. Sering kita dengar bahwa anak itu adalah titipan Tuhan yang harus dijaga dan dirawat dengan baik.

Tapi bagi sebagian orangtua cuma tahunya membesarkan anak dengan cukup memberikan makan dan menyekolahkan.

Masalah moralitas dan perilaku tidak sempat memikiran. Ini yang membuat anak tidak tumbuh dengan wajar sebagai seorang anak.Bisa jadi salah satu orangtua model begitu adalah saya.


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post