Belajar Tentang Janji dari si Dede

16 Sep 2013

Untuk bisa menepati janji memang adakalanya susah setengah mati bagi sebagian orang. Lalu cari-cari alasan untuk mengingkari atau pura-pura lupa.

Bahkan ada yang sengaja memberi janji membuai bagai mimpi. Sudah tahu tidak mungkin bisa memenuhi. Ada lagi janji yang sepele pun tak bisa dipenuhi oleh tak adanya niat.

Soal janji ini baru-baru ini saya mendapat pelajaran dari si Dede. Begini ceritanya:

Setiap hari dari Senin sampai Jum’at si Dede kalau ke sekolah sudah ada ojek yang mengantar dan menjemput.

Karena hari Sabtu ada tambahan, si Dede janjian dengan tukang ojeknya minta diantar. Tapi kebetulan pas Sabtunya saya ada di rumah, si Maminya minta saya yang antar saja. Hitung-hitung penghematan. Nanti tinggal bilang ke abang ojeknya.

“Sekarang Papi antar Mami dulu. Habis itu antar Dede diantar ke sekolah. Nanti Mami bilang ke Pak Bagio hari ini gak usah antar dulu.”

Tak tahunya si Dede langsung protes,”Gak usah, Mi. Dede kan udah janji minta diantar ojeknya. Mana enak sih Dede udah janji kalau dibatalin. Janji itu harus ditepati!”

Saya setuju dengan keinginan si Dede,”Ya udah Dede diantar tukang ojek aja. Jadi Papi bisa istirahat di rumah.”

Saya pikir nilai keinginan si Dede untuk menepati janji lebih besar daripada penghematan uang yang tak seberapa.

Bayangkan apa efeknya andaikan dengan enteng saya berkata,”Udah gak apa-apa Dede diantar Papi aja. Nanti tinggal bilang ke tukang ojeknya gak jadi.”

Apa yang terjadi pasti akan terekam dengan kuat di memori alam sadarnya,”Oh, kalau membatalkan janji itu tidak apa-apa.”

Mungkin tanpa kita sadari, anak hari ini seperti apa tak lain adalah dari apa yang kita ajarkan. Baik langsung maupun secara tidak langsung.


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post