Awalnya Nolak, Selanjutnya Enak

9 Oct 2013

Dalam ruangan yang terkunci rapat ada dua sosok manusia di dalamnya di meja masing-masing dengan tumpukan berkas-berkas:

Ini bagianmu, kawan, hasil mark up harga belanja kantor kemarin, kata yang seorang yang penampilannya perlente sambil menyerahkan sebuah amplop.

Apa nih? gelagapan,Gak, Pak. Ini bukan hak saya! pegawai yang masih baru dan polos itu tidak berani menerima amplop yang diserahkan. Tangannya gemetaran.

Kamu ini gimana sih. Ini rejeki jangan ditolak. Udah ambil aja. Lagian gak ada yang tahu ini! seseorang itu mendesak.

Tapi sejak kecil saya diajarkan untuk tidak menerima sesuatu yang bukan miliki saya, Pak! pegawai yang berwajah imut itu masih berusaha menolak.

Kawan, jaman sekarang itu jadi orang gak usah jujur-jujur amatlah. Sesekali gak jujur gak apalah. Lagian uang ini memang hakmu kok. seseorang itu meletakkan amplop tersebut di meja.

Tiba-tiba ada bisikan halus,Udahlah ambil aja. Mubazir tahu uang segitu gak diambil. Tak apa-apalah kali ini aja. Kan lumayan buat beli HP terbaru daripada pakai yang jadul begitu.

Ya, ya sekali ini aja. diraihnya amplop itu dan disimpan ke dalam tasnya.

Beberapa waktu kemudian di ruang yang sama dengan sosok yang sama tetap dengan pekerjaan yang sama:

Rejeki datang. Kawan, ini bagianmu! seseorang itu kembali menyerahkan sebuah amplop yang lebih tebal dari sebelumnya.

Pak? eh..eapa nih? ada ragu tapi amplop itu diterima.

Selang setengah tahun di sebuah restauran masih dengan sosok yang sama:

Bagianmu dua lima puluh juta udah kutransfer ke rekeningmu, kawan! seseorang itu melempar senyum sambil menyeruput kopi hangatnya.

Disambut senyuman pula oleh pemuda yang kini berpenampilan necis itu sambil berucap,Terima kasih, Pak! Lumayan buat tambahan beli mobil baru.

Cerita terus berlanjut, setahun kemudian pegawai yang awalnya polos itu menelepon seseorang:

Halo, Pak. Kok bagian saya yang seratus juta belum ditranfer? Rencananya dananya mau saya pakai buat persiapan menikah yang kedua kali nih, Tolong segera ya, Pak!


TAGS


Comment
  • budianto 4 years ago

    Itulah manusia, maka dari itu kita harus terus bentengi diri ini dengan keimanan, lebih dekat dengan ulama.

-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post