Orangtua Demi Karir Lupa Menemani Anak Tumbuh Dewasa, Anak Demi Kebebasan Melupakan Perhatian Orangtua

29 Nov 2013

Fenomena orangtua yang demi karir melupakan anaknya sudah sekian lama kita temui. Banyak drama kehidupan ini diangkat menjadi kisah dalam sinetron atau film.

ORANGTUA SIBUK BERKARIR LUPA MENEMANI ANAKNYA BERTUMBUH

Orangtua yang lebih sibuk mengejar karir dan kedudukan membuat tidak sedikit anak-anak yang kehilangan perhatian orangtua yang didambakan, sehingga lebih akrab dengan pembantu di rumah. Karena orangtua pergi pagi, pulang sudah menjelang tengah malam.

Yang menyedihkan, bukan hanya mengejar karir duniawian. Ada pula orangtua yang lebih sibuk mengejar karir kerohanian untuk melayani. Tapi anak-anak sendiri terlantarkan. Ini bukan omong kosong.

Para orangtua berpikir anak-anaknya sudah cukup diberi pendidikan di sekolah yang terbaik, memberikan kemewahan dan memenuhi kebutuhan apapun. Orangtua berpikir peran mereka dapat digantikan dengan segala benda yang diberikan.

Digambarkan keadaan ini membuat anak-anak merindukan kehadiran dan perhatian orangtuanya. Itu ceritanya dulu.

Jaman semakin berubah. Tak mau kalah dengan orangtua anak-anak pun tak kalah sibuk dengan dunianya. Menikmati kebebasan.

ANAK-ANAK TUMBUH TANPA KEHARMONISAN KELUARGA

Pada perkembangannya, anak-anak demi kebebasan sudah bisa melupakan kebutuhannya untuk diperhatikan orangtua. Asalkan semua kebutuhan untuk memenuhi gaya hidupnya terpenuhi. Ya sudah. Anggap saja semua itu adalah kebutuhan untuk bertumbuh.

Mereka sebagai anak yang sedang bertumbuh, kini bisa mencari perhatian dan mendapatkannya berpesta dengan teman sebaya atau mencari perhatian di dunia maya. Mereka bisa melupakan perhatian dari orangtuanya dengan kesibukan yang ada.

Orangtua dan anak menjadi makhluk asing dalam rumah. Masing-masing sibuk dengan dengan dunianya. Bapak sibuk berkarir dan mencari selingkuhan, Ibu menghabiskan waktu bersosialia dan berpesta, dan anak sendiri terlalu asyik di dunia maya dan pergaulan bebasnya.

Akhirnya tiada kerukunan dan keharmonisan di dalam keluarga. Waktu yang berharga untuk menciptakan kebersamaan hilang begitu sama. Pernikahan yang sejatinya merupakan membina keluarga sudah kehilangan maknanya.

Energi ini menyebar ke dalam kehidupan masyarakat. Kerukunan yang di damba semakin menjauh saja. Keharmonisan hidup antar sesama menjadi sesuatu yang berharga. Ujung-ujungnya kehidupan bernegara pun belum mencapai kedamaian.

Sebab para pemimpin lebih sibuk memikirkan kekuasaan dan kepentingan golongannya daripada kesejahteraan dan kemakmuran rakyat.


TAGS refleksihati


Comment
  • nasphie 3 years ago

    kata-kata terakhirnya tuh,,ngepas banget…:)

  • anniyangini 3 years ago

    nah lhoo ketangkep …

    ah mas Kate, pantesan K sepi …

  • Cari jodoh 3 years ago

    Yang paling parah jika anak2 tumbuh di broken home.

  • didiksugiarto 3 years ago

    kadang orang tua yang penting sdh ngasih materi. Nggak tahu keinginan sebenarnya dari anaknya. Akibatnya banyak anak salah asuhan. Makasih pak postingnya.

  • Walter Pinem 3 years ago

    pada akhirnya anak yang selalu menjadi korban.
    btw, nice share dan salam kenal :D

  • nasphie 3 years ago

    iya,,,,kebanyakn emang kaya gitu,,orang tua sibuk kerja,,anak-anak sibuk melupakan perhatian orang tua..

  • bangpilot 3 years ago

    Hallo ! Pak Katedra !

  • bangpilot 3 years ago

    Nemu pak Katedra di sini.
    Tapi, koq sepi ya pak? Gak serame di K.
    Jumlah hits juga gak ketahuan.
    Nama penulis juga entah di mana, di halaman ini.
    Maklum, ini baru daftar.
    Itu juga karena lihat ada pak Katedra.
    Pak, rame gak yang baca di sini?
    Terima kasih.
    Bang Pilot, nyasat dari K’siana.

-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post