Memberikan Kesempatan Anak untuk Melakukan Hal yang Kita Khawatirkan

13 Dec 2013

Sebagai orangtua pasti khawatir bila anak hendak melakukan hal yang tidak biasa atau mengandung bahaya. Tapi adakalanya kekhawatiran itu berlebihan. Akibatnya anak kehilangan kesempatan untuk hal yang ingin sekali dilakukannya.

Kreativitas dan Ingin Tahu

Anak-anak yang sedang bertumbuh kreativitas dan rasa inginnya tahu tinggi. Kadang sebagai orangtua yang tidak tanggap, sehingga justru menghambat perkembangan mereka.

Salah satu contoh: si dede keinginan belajar hal-hal yang baru besar sekali. Kalau lihat maminya atau saya sedang memasak, dia ingin mencoba membantu.

Selain itu untuk hal lain si dede juga suka ikut nimbrung. Misalnya kalau saya sedang membongkar alat elektronik. Kelihatan memang agak merepotkan, tapi kalau keinginannya diapreiasi pasti anak-anak bersemangat untuk belajar.

Kekhawatiran yang Berlebihan

Si mami melihat keinginan si dede mau ikut bantu masak begitu khawatir. Takut apa-apa dan sepertinya malah merepotkan, sehingga keinginan si dede tidak tercapai.

Sebenarnya sebagai orangtua wajar khawatir karena memasak itu dekat api. Takut terjadi apa-apa.

Jadi beranggapan, buat apa-apa repot membantu, nanti kalau sudah matang tinggal makan saja. Saya pikir ini ada kesalahan sikap kita sebagai orangtua.

Tapi hal ini tanpa disadari telah membunuh keinginan seorang anak untuk belajar, sehingga kehilangan motivasi untuk belajar hal yang baru. Ya, motivasi yang hilang akan sulit untuk ditemukan.

Orangtua khawatir memang wajar, namun bila sampai terlalu berlebihan tentu tidak baik juga bagi perkembangan anak itu sendiri. Pasti akan timbul rasa tidak nyaman.

Beri Kesempatan dan Dampingi

Keinginan si dede mau belajar memasak sangat saya apresiasi. Jangan asmpai kesempatan emas ini disia-siakan saya pikir. Itu sebabnya saya beri kesempatan ia untuk mengaduk-aduk sayur sambil diajarkan caranya dan selalu berhati-hati.

Belakangan si dede juga sudah bisa masak mie sendiri dari proses awal sampai akhir. Saya lihat begitu bangganya ketika ia menunjukkan caranya. Apalagi saya berikan sedikit pujian,”Anak Papi pintar ya, udah bisa masak mie sendiri…”

Iyalah, kan Dede udah belajar. Kalau masak mienya Dede pakai dari air keran dulu. Kalau mienya udah matang kan airnya dibuang. Untuk kuahnya dede baru pakai air galon.

Saya pikir si dede pintar juga,Emang siapa yang ngajarin?

Dede pikir sendiri aja, biar air galonnya hemat. Wah, boleh juga si dede tak beda sama bapaknya.


TAGS


Comment
-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post