Debat

19 Mar 2014

Sejatinya orang bijak akan menghindari perdebatan dalam bentuk apapun. Sebab yang sering kali terjadi dalam perdebatan bukanlah upaya untuk mencari kebenaran sesungguhnya.

Tetapi mencari kebenaran versinya masing-masing. Yang lebih menyedihkan adalah mencari pembenaran atas kekuasaan egonya. Orang bijak tidak membuktikan dengan pembenaran dan menunjukkan kepintarannya.

Sebaliknya orang pintar suka berdebat, karena ingin membuktikan kepintarannya dan menunjukkan bahwa orang lain salah. Untuk itulah berdebat menjadi pilihan, agar seluruh dunia dapat menyaksikan.

Orang yang mengandalkan kepintaran akan selalu memiliki pembenaran untuk melakukan perdebatan soal benar dan salah. Padahal semua itu tidak membuktikan apa-apa.

Apakah perdebatan dengan suara menggelagar akan membuat kita semakin bijak? Kepintaran malah bisa menutupi suara hati, sehingga kebenaran dibuat samar-samar.

Anak-anak diajarkan untuk berdebat. Para pejabat saling berdebat. Di televisi ada pertunjukkan berdebat. Tatkala berani berdebat dengan teman dan orangtuanya dianggap hebat. Urusan sepele pun bisa menjadi sumber perdebatan.

Begitulah, orang pintar mengira dalam perdebatan ia akan semakin pintar dan menemukan pencerahan. Padahal cahaya pencerahan sulit memasuki otak yang penuh dengan kepintaran.

Apalagi sampai mendebatkan agama, ujung-ujungnya yang ada saling klaim sebagai yang paling benar. Saling memojokkan dan saling menghina. Tidak selalu begitu memang.

Tetapi yang jelas menedebatkan agama sulit akan menemukan kesepahaman. Karena ego yang lebih di kedepankan. Bukankah menang dalam perdebatakan akan semakin membesarkan ego, alih-alih lebih memahami kesejatian agama. Menyedihkan.

Yang lebih menyedihkan adalah saya ini, tak pintar-pintar amat tapi berlagak paling pintar dan sukanya berdebat menganggap yang lain tak lebih pintar. Sungguh menyedihkan, bukan?


TAGS


Comment
-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post