Suudzon Pada Fadli Zon?

23 Apr 2014

Boleh dibilang sebelumnya saya termasuk simpatisan Partai Gerindra dan Pak Prabowo Subianto yang seakan memberi harapan dengan keinginannya menjadi presiden. Bahkan sudah ada rencana akan rutin membuat tulisan dukungan di sebuah situs khusus tentang Pak Prabowo.

Tetapi jujur, ketika dalam kampanye Pemilu yang baru berlalu saya menemukan cara kampanye yang kurang simpati dilakukan oleh pendiri Partai Gerindra dengan melakukan sindiran atau serangan ke pribadi lawan politiknya. Dalam hal ini khususnya ke Pak Jokowi.

Bagi yang masih memiliki hati dalam berpolitik, apa yang dilakukan Pak Prabowo tentu akan dianggap kurang etis dan tidak satria. Semestinya dalam kampanye itu adalah memaparkan visi dan misinya sebagai seorang pemimpin. Bukannya malah sibuk menyerang lawan.

Apalagi kemudian tindakan kurang simpati diikuti oleh pelayan setia Pak Prabowo yang menjabat wakil ketua umum partai, Pak Fadli Zon. Bermodalkan kata-kata puitis namun menyerang sadis. Jelas-jelas serangannya ke sosok Pak Jokowi. Walau tak menyebutkan nama. Sudah sadis, licik lagi tak berani menyebutkan nama. Bahwa ia memang sedang menyerang sosok Pak Jokowi.

Rasa simpati semakin luntur dengan kelakuan politisi semacam ini. Apa yang bisa diharapkan ketika nanti menjadi bagian dari kekuasaan?

Setelah tak mempan menyerang Pak Jokowi dengan puisi-puisinys, Pak Zon ini berganti haluan dengan menyerang para pendukung Pak Jokowi dengan label ‘Pasukan Nasi Bungkus’. Bicara nurani dengan embel-embel dosa dan neraka.

Ini semakin tak membuat simpati. Kenapa tak berpikir dengan caranya menyerang dan menghina Pak Jokowi dalam puisinya tak merasa berdosa? Karena isinya sebagian adalah fitnah.

Soal blusukan misalnya. Jarang-jarang ada pemimpin yang mau langsung turun langsung ke lapangan berbaur dengan rakyat untuk mengetahui masalah yang sebenarnya. Tak heran apa yang dilakukan Pak Jokowi mendapat apresiasi internasional. Lah, ini sama anak bangsa sendiri malah dihina?

Kalau bicara nurani, ke manakah nurani? Apakah yang dilakukan Pak Zon dengan menyerang dan menghina Pak Jokowi itu sudah sesuai nurani? Jelas ini tak lebih dari membela kepentingan dan yang bayar. Walau memang dalam bentuk nasi bungkus.

Dalam puisi terbarunya, Pak Zon ‘Pasukan Nasi Bungkus’ ada beberapa kalimat yang saya garis bawahi untuk dikutip:

[Menyerang lawan tak pernah gentar

Patuh setia pada yang bayar

Kami pasukan nasi bungkus

Hidup dari cacian dan fitnah harian

Tetap gagah bertopeng relawan

Kami pasukan nasi bungkus

Tak takut dosa apalagi neraka]

Kalau boleh jujur lagi, apa yang tertulis menurut saya lebih tepatnya di arahkan kepada dirinya sendiri yang menyerang Pak Jokowi tanpa gentar karena setia pada yang membayarnya dengan jumlah besar, sehingga tak takut membuat puisi fitnah dan cacian [walau dibungkus dalam kata-kata puitis tapi aroma busuknya tetap merebak ke luar juga].

Pak Zon sendiri tetap gagah terus membuat puisi walau sudah dikritik dan di kick balik. Sekarang malah menuduh pendukung Pak Jokowi pasukan yang cuma dibayar dengan nasi bungkus dan pulsa. Padahal yang namanya pendukung Pak Jokowi tak mendapat apa-apa. Karena memang mendukung dengan hati.

Dalam hidup kita memang diajarkan untuk khusnudzon atau berprasangka baik, tapi sulit rasanya untuk berprasangka baik dengan apa yang telah diperlihatkan oleh Pak Zon ini. Apakah saya sedang suudzon pada beliau? Entahlah!



TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post