Kontribusi

16 May 2014

Ketika mendapat kabar dari seorang teman bahwa saya mendapat undangan khusus untuk hadir pada sebuah acara karena dianggap sudah berkontribusi di dalam wadah kemanusiaan dan ke-Tuhan-an untuk membantu sesama.

Tentu saya sedikit kaget. Secara manusiawi saya merasa bangga. Hebat juga saya! Ternyata kontribusi saya dulu masih ada yang ingat. Tapi ketika kesadaran yang bicara justru saya merasa malu. Apa kontribusi yang telah saya berikan selama ini? Tak lebih dari tenaga dan semangat. Tak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang lain. Sudah keluar tenaga, semangat dan masih memberi kontribusi dalam bentuk uang.

Bicara lebih mendalam lagi tentang kesadaran ini. Apa yang patut saya banggakan dengan hanya sedikit kontribusi kecil dulu? Lagi pula yang yang telah dilakukan sekadar mengikuti suara hati ketika itu dan sekarang saya sudah tidak berkontribusi lagi. Rasanya yang pantas itu adalah merasa malu.

Berkontribusi dalam Kebajikan Sejatinya adalah Hal yang Alami


Mengapa harus malu? Karena hal baik yang pernah saya lakukan adalah sesuatu hal yang alami. Bukankah pada dasarnya manusia harus saling berkontribusi untuk membantu dan peduli pada sesamanya? Tidak ada yang patut dibanggakan.

Tetapi ketika apa yang seharusnya kita lakukan sebagai manusia tidak bisa kita lakukan. Bukankah ini memalukan? Tentu lebih memalukan lagi bila saya merasa pantas untuk membangga-banggakan dengan setetes kebaikan yang sudah sesuai suara hati.

Begitulah jaman, hal yang alami sudah menjadi sesuatu yang demikian berharga dan bisa menjadi kebanggaan. Karena semakin banyak yang tak mau mengambil bagian untuk berkontribusi dalam kebaikan.Ketika ada yang mau berkontribusi, maka terjadi kehebohan. Bukan menjadi hal yang alamiah lagi.

Ketika Kebaikan Sudah Langka, Maka Ketika Ada yang Rela Melakukan Kebaikan Akan Dianggap Hal Yang Luar Biasa

Ketika di antara sekian banyak orang yang enggan berkontribusi dalam kebaikan kepada sesamanya, maka ketika ada yang mau sedikit berkontribusi saja akan dianggap hal yang luar bisa dan patut mendapat pujian atau penghargaan.

Pada saat kita menemukan ada yang begitu jujur mau mengembalikan dompet kita yang terjatuh, maka kita akan terharu dan merasa heran bahwa masih ada orang yang begitu jujur. Mengapa? Bisa jadi yang pertama indikasinya adalah kita sendiri termasuk bukan orang yang jujur. Indikasi kedua adalah secara kasar kita bisa menentukan bahwa di antara sepuluh orang paling yang masih jujur ada satu orang.

Sama hal halnya ketika ada seseorang yang begitu dermawan mau memberikan sebagian besar hartanya untuk beramal, maka spontan kita akan menganggapnya sebagai malaikat penolong. Sebab kenyataannya kita jarang menemukan ada orang yang begitu rela mau memberikan sebagian besar hartanya untuk orang lain secara rela. Yang sudah diwajibkan agama saja, kita masih lupa atau berat hati memberikan.

Seperti yang sering kita saksikan di acara televisi, pada saat ada yang memberikan sebagian kecil dari kekayaannya kepada mereka yang hidup dalam kemiskinan, maka sang pemberi seperti akan disembah dan dipeluk dianggap sebagai dewa penolong.

Apa sebab? Karena selama ini yang mereka dapatkan hanya ketidak-pedulian. Padahal yakinlah di sekitar mereka banyak yang mampu tapi enggan berkontribusi secara kemanusiaan untuk memberi bantuan.

Apakah Kita Akan Berkontribusi?

Selamat tentunya kepada di antara kita yang telah berkontribusi secara diam-diam walau itu baru sekadar niat baik. Sebab sebuah niat dan doa pun sudah merupakan kontribusi untuk menciptakan kebaikan. Setiap niat dan harapan yang baik serta doa memberikan kontribusi terciptanya energi positif bagi kehidupan.

Jadi tidak berkecil hati bila baru sanggup sebatas niat baik saja. Dengan adanya benih niat ini semoga suatu saat akan tumbuh dan menjadi kontribusi nyata bagi kehidupan ini.

Tetapi saat ini dunia memang masih membutuhkan lebih kontribusi kebaikan dari penghuninya untuk menciptakan masyarakat yang lebih baik dan harmonis, agar dunia menjadi tempat yang lebih nyaman untuk dihuni. Sebab kontribusi kejahatan semakin merajalela.

Apa kontribusi kita pada kehidupan ini akhirnya itulah yang akan menjadi miliki kita. Baik kontribusi yang baik maupun kontribusi yang buruk dan kita jugalah yang akan bertanggung jawab. Semua adalah pilihan kita. Jadi apa kontribusi saya sekarang?

Afirmasi:

Tuhan, semoga kami menjadi orang-orang yang ingat akan apa kontrubisi yang harus kami berikan pada kehidupan ini, sehingga pada akhirnya kebaikan menjadi sifat alami kami yang berguna bagi sesama.

katedrarajawen@refleksihatimenerangidiri


TAGS


Comment
  • hanari 3 years ago

    Sesuatu hal yang baik memang akan selalu diingat,

  • Rianda Prayoga 3 years ago

    Kontribusi kebaikan sekecil apapun juga bermanfaat ya..
    Mungkin karena sudah langkanya orang yg berbuat baik

-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post