Kenapa?

2 Dec 2014

Tak jarang kita melihat keadaan di sekeliling yang membuat kita kecewa tapi kita tidak mampu mengubahnya dan malah membebani pikiran dengan sibuk menilai. Mengapa kita tidak mengubah rasa kecewa yang ada dengan memahami apa yang terjadi?

Seringkali kita menyesali kejadian yang baru berlalu dan menjadi beban pikiran sepanjang waktu. Padahal dengan apa yang kita lakukan tak akan pernah mengubah keadaan. Mengapa kita tidak mengubahnya dengan tidak menjadi penyesalan dan beban dengan fokus pada saat ini dengan apa yang kita lakukan?

Sepanjang hari hidup kita diliputi oleh pilihan-pilihan yang harus kita ambil. Ada pilihan yang bisa kita timbang-timbang seharian atau dalam beberapa saat harus kita putuskan. Ada lagi pilihan yang harus kita ambil dalam keadaan mendesak.

Tak jarang pada akhirnya pilihan tersebut membuat kita menyesal. Kenapa saya pilih yang ini bukan itu? Kenapa ini yang saya lakukan bukan itu?

Banyak kali sudah saya mengalami hal ini. Adakalanya nerlarut-larut menyesali dengan pertanyaan kenapa dan kenapa. Ada waktunya saya biarkan berlalu tanpa harus memikirkan lagi. Anggap saja itu adalah sebagai risiko.

Baru-baru ini saya mengantar Bapak untuk mengurus surat-surat di kelurahan, kecamatan dan berlanjut ke Dinas Kependudukan. Kebetulan hari Senin, sehingga ramai sekali suasananya sampai tidak kebagian tempat parkir.

Di Dinas Kependudukan antrian sudah berjubel sampai harus desak-desakan. Hampir semuanya berjubel di depan petugas, sehingga untuk menaruh berkas saja harus melalui perjuangan. Nomor antrian sudah tidak berlaku lagi. Yang sudah menaruh berkas pun tak mau beranjak dari tempatnya. Padahal bangku-bangku masih banyak yang kosong.

Saya menyesal melihat keadaan ini. Kenapa orang-orang tidak mau tertib dan harus berjubel di depan meja petugas? Kenapa juga petugas yang ada tidak mau menertibkan? Kenapa juga sudah ada yang mengingatkan tak ada yang mau mengindahkan?

Melihat keadaan ini sampai tidak konsentrasi. Lalu saya mendengarkan lagu kesukaan dari telepon genggam dengan menggunakan headset. Tetapi tidak bisa menikmati juga takut tidak terdengar bila dipanggil petugas nanti.

Pilihannya ya nikmati saja kegaduhan dan kesumpekan yang ada di depan mata dari kejauhan. Ya begitulah maunya orang-orang. Mau apa lagi?

Ketika nama saya dipanggil untuk sampai ke meja petugas saya harus menerobos sekuat tenaga. Saya sudah was-was kalau ada berkas-berkas yang kurang lengkap. Ternyata benar saja. Ada berkas asli yang tak dibawa. Repot ini.

Lalu saya memutuskan akan segera mengambilnya sambil memastikan bahwa cuma berkas tersebut yang kurang.

Saya meminta Bapak untuk menunggu saja dan saya pulang ke rumah untuk mengambil berkas tersebut. Dalam perjalanan terpikirkan oleh saya ada keputusan yang salah. Kenapa Bapak tidak sekalian saya ajak pulang?

Kenapa? Karena hari itu hari kerja. Tidak enak ijin keluarnya terlalu lama. Kalau Bapak saya ajak pulang, setelah mengantar kekurangan berkas saya bisa langsung ke tempat kerja dan tidak perlu mengantar Bapak ke rumah lagi.

Sepanjang jalan saya menyesali. Kenapa tadi Bapak tidak sekalian saya ajak pulang, sehingga tidak harus bolak balk lagi. Bukan hanya banyak waktu terbuang. Bensin pun harus berkurang untuk hal yang seharusnya tidak perlu.

Mau apa lagi? Nasi sudah jadi bubur. Menyesali pun hanya akan membuang energi.Kalau dipikir-pikir begitu banyak energi terbuang selama ini hanya untuk hal yang sia-sia. Karena apa pun itu kita tidak mungkin memutar waktu kembali dan melakukan hal yang kita sesali dengan cara yang kita pikir lebih baik. Sekali lagi, sia-sia dan tak berguna. Tetapi tetap saja kita lakoni.

katedrarajawen@pembelajarandarisebuahperistiwa


TAGS


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post