Penampilan dan Diskriminasi

11 Mar 2015

Saat menghadiri undangan acara Perayaan Imlek bersama Perkumpulan Warga Kalbar Tangerang di Novotel Hotel yang berada Tang City Mall, ketika hendak memasuki lift berpapasan dengan seorang bapak berbaju batik dan kepala plontos.
 
Dengan ramah ia memersilahkan saya, istri dan s dede masuk terlebih dahulu. Saya berpikir beliau pasti petugas di hotel biasa yang melayani tamu. Begitu juga ketika hendak keluar dari lift, beliau pula yang dengan gerakan tangan menunjukkan, agar kami keluar terlebih dahulu.
 
Ketika acara berlangsung dan beliau naik ke atas panggung, saya baru mengetahui ternyata bapak itu General Manager Hotel Novotel #pikiranyangmenipu
 
Dalam kehidupan ini penampilan memang seringkali menipu. Sebab kita sendiri yang memersepsikan diri dengan fokus kepada penampilan. Sudah menjadi kebenaran umum bahwa bila penampilannya begitu orangnya adalah begitu.
 
Kalau penampilannya begini ya orangnya begini. Padahal tidak semuanya adalah kebenaran. Penampilan dan perilaku sesaat bisa menipu. Tetapi pada akhirnya yang sebenarnya akan akan terungkap.
 
Bisa saja seseorang berpenampilan layaknya boss. Kenyataannya ia hanyalah orang biasa. Sebaliknya orang yang berpenampilan sederhana, ternyata adalah seorang boss besar. Pikiran kita memang sudah terlalu diskriminasi dengan penampilan seseorang.
 
Seperti pengalaman yang saya alami. Hanya karena melihat ia mau melayani dengan ramah dan rendah hati lalu menganggapnya sebagai petugas hotel.
 
Dalam artinya yang sesungguhnya memang mereka yang bekerja di tempat tersebut adalah petugas atau pelayanan dengan jabatan yang berbeda. Namun dalam benak kita punya penilaian tersendiri kepada mereka.
 
Kalau kepada penerima tamu kita paling bergumam ‘Oh, penerima tamu?’ dengan nada yang datar. Bila kepada pimpinan yang menerima tamu atau managernya nadanya gumaman pasti akan berbeda.’Oh, itu managernya ya?’
 
Dalam sikap ini paling tidak seakan kita merendahkan mereka yang memiliki jabatan rendah dan meninggikan mereka yang memiliki jabatan tinggi. Hal ini secara tidak sadar terbentuk dalam kehidupan kita, sehingga melekat menjadi karakter kita.
 
Mungkin kita tidak mengakui bahwa kita telah bersikap diskriminasi kepada orang lain. Tetapi paling tidak dari sikap kita sudah menjadi sebuah kebenaran yang tak bisa dibantah.
 
Kita juga mungkin bisa memerlakukan orang lain dengan sikap yang sama. Apakah dalam hal kadar ketulusan bisa sama? Seringkali saya melihat atau dalam diri sendiri dalam memerlakukan orang lain.
 
Kepada seorang boss dan seorang buruh. ada sikap yang berbeda. Ada sikap hormat yang lain. Sadar tidak sadar sikap diskriminasi ini terwujud. Menyadari hal ini yang paling penting dan mendesak adalah bagaimana melatih hati dan pikir untuk bersikap adil menerima atau memerlakukan setiap orang sebagai tamu kehormatan dan ‘anak-anak’ Tuhan yang ada di dunia ini.

katedrarajawen@refleksihatimnerangidiri


TAGS pengalaman


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post