Memberi Atas Nilai Kemanusiaan

14 Oct 2015

 

Memberi Tanpa Syarat. - 16:37 12 Oktober 2015

 

Sejatinya saat memberi kita membutakan mata dan pikiran, sehingga hanya mata hati yang bekerja. Ketulusan untuk membantu sesama yang menjadi ukuran.

 

Dengan demikian kita tidak akan melihat dan berpikir siapa yang akan menerima pemberian kita. Yang menjadi standar adalah kelayakannya untuk menerima.

 

Bila tidak demikian kita akan terkungkung dalam kemelekatan yang mengikat, sehingga tidak bisa bebas dalam berkebajikan. Pada akhirnya ini membuat kita tak bisa lagi meluaskan kebaikan hati kita yang begitu luas kepada sesama makhluk Tuhan. 

 

Untuk pembelajaran kehidupan ini seringkali Tuhan harus meminjam bencana untuk menyadarkan kita. Salah satunya ketika bencana dahsyat tsunami yang melanda Aceh pada akhir 2004. 

 

Setelah bencana begitu banyak datang bantuan dalam berbagai bentuk dari berbagai bangsa, golongan dan juga agama. Mereka tidak melihat lagi bahwa yang mengalami bencana dan harus ditolong itu orang Aceh dan beragama Islam. 

 

Sebab yang mereka lakukan adalah demi nilai kemanusiaan yang universal. Tentu hal ini melampaui semuanya. Begitu juga saat bencana-bencana lain terjadi, bantuan dating adri seluruh penjuru semua atas nilai kemanusiaan. Nilai kebaikan semesta.

 

Belum lama ini istri saya terpanggil akan suara hatinya untuk membantu sesama sesuai kemampuan yang ada. Lalu ia ikut berbagi dana ke panti anak yatim-piatu tak jauh dari rumah.

 

Ada kejadian yang menurut saya menarik. Ibu pengaruh di panti itu penasaran. Kenapa istri mau ikut membantu di panti yang notabene penghuninya 100 persen beragama Islam?

 

Sebab ibu pengaruh panti itu melihat istri saya bermata sipit yang dianggap kalau tidak beragama Kristen, ya Buddha.  Kenapa tidak menyumbang ke gereja atau wihara saja.

 

Istri memberikan alasan kalau ia berniat saja menyumbang di panti tersebut . Lalu mengatakan bahwa namanya menyumbang itu bisa di nama saja. Tak perlu melihat tempat dan siapa.

 

Saya sepaham bahwa untuk berbuat baik itu memang bisa di mana dan kepada siapa saja yang membutuhkan. Sesuai momen atau kesempatan yang ada. Tak keras juga yang namanya jodoh kehidupan. 

 

Bila dalam berkebajikan kita menggunakan nilai universal bahwa setiap makhluk adalah ciptaan Tuhan, maka tidak akan timbul yang namanya diskriminasi dalam berbuat baik. Tidak akan pilih kasih, pilih bulu atau tebang pilih atau apalah istilahnya. 

 

Tentu hal ini bisa mencederai kebaikan nurani kita. Bila suara hati ini masih nyaring tentu akan merasakan ketidaknyamanan.

 

Ketika kita melakukan hal baik kepada sesama dan semata-mata mengingat bahwa Tuhan pasti melihat dan malaikat mencatat, maka pasti tidak ada keraguan kepada siapa, agamanya apa, dari golongan mana, dan di mana tinggalnya.   Nilai kebaikan yang sesungguhnya akan melampaui semua itu.

 

 

katedrarajawen@pembelajarandarisebuahperistiwa

 

 

 

 


TAGS refleksi hati


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post