Apa yang Dianggap Benar Belum Tentu Benar

22 Oct 2015

Apa yang sudah jelas kita lihat atau anggap benar belum tentu itu adalah kebenaran yang sesungguhnya. Seringkali kebenaran itu hanyalah menurut pendapat umum atau sekadar asumsi dan penglihatan kita.  

Yang jadi masalah adalah kita memaksakan apa yang kita anggap atau lihat benar itu sebagai paling benar, sehingga dengan mudahnya kita menyalahkan atau bahkan menghakimi yang berbeda pendapat atau penglihatan. Padahal tidaklah demikian benarnya. Tetapi sudah demikian terpersepsi dalam diri kita. 

Anak saya si dede menggambar sebatang pohon kelapa dengan dahan-dahannya yang rindang. Daun-daunnya diberi warna hijau. Namun salah satu dahan malah diwarnai coklat. 

Gara-gara daun berwarna coklat itu nilai gambarnya berkurang. Guru si dede memberikan koreksi seharusnya daun-daun itu berwarna hijau. Tetapi si dede berpendapat bahwa ada juga daun kelapa yang berwarna coklat. Sebab si dede pernah lihat secara langsung. Menurutnya dahan kelapa yang sudah kering itu warnanya coklat. Nah loh, benar juga si dede

Pernah juga saya mengalami sendiri dianggap ‘tertangkap basah’ sebagai pelaku iseng memencet bel. Waktu itu baru turun dari angkot beberapa anak berlarian menjauh dari pintu gerbang tempat saya tinggal. Rupanya dari dalam beberapa rekan sedang mengintai. 

Begitu pintu gerbang saya buka langsung saya jadi tertuduh. Ada apa ini? Rupanya rekan-rekan ingin menangkap basah orang iseng yang sering memainkan bel di pintu gerbang. Mereka sepakat kalau pelakunya saya. Sebab momennya pas. 

Ada satu kejadian lagi. Untuk persiapan nonton bola tengah malam saya menaruh dua botol minuman energi di kulkas di kantin. Saat duduk-duduk di kantin saya lihat seorang rekan kerja dengan santainya menikmati sebotol minuman energi yang persis saya beli. 

Langsung saya berasumsi itu minuman yang saya taruh di kulkas. Sebab selama tahunan tinggal bersama hampir tidak pernah melihat ia minum minuman berenergi. Tidak salah lagi, itu pasti minuman yang saya simpan di kulkas. Enak banget ya minum tanpa permisi tanpa mesra bersalah minum di depan saya. Kalau minta juga pasti dikasih. Pikiran saya liar melayang. 

Setelah rekan ini pergi saya buru-buru periksa isi kulkas. Loh, ternyata minuman saya masih utuh. Jadi malu sendiri bercampur heran. Apa yang sudah saya asumsikan pasti benar malah salah besar. 

Saya juga pernah membaca kisah orang yang divonis dokter sudah meninggal secara medis ternyata masih hidup. Itu artinya bahwa yang dianggap sudah mati saja ternyata masih hidup. Artinya apa yang sudah kita pikir paling benar ternyata bisa ada salahnya. Jadi tidak ada salahnya mengakui kebenaran ini tanpa mencari-cari pembenaran. 

Lah, berarti tulisan ini juga tak bisa sepenuhnya harus dipercaya kebenarannya dong? Bagaiamana ya? Tetapi saya harus yakin mengatakan kalau menurut saya sih benar!


TAGS refleksihati


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post