Debu Hati

26 Oct 2015

DEBU HATI

Debu-debu yang ada di sekitar kita yang menempel di mana-mana menyebalkan. Apalagi menempel pada makanan. Pasti membuat perasaan kita jijik untuk menyantapnya lagi.

Pada musim kemarau ini debu-debu beterbangan yang beterbangan semakin mengganggu saja. Menimbulkan batuk-batuk dan gatal-gatal di hitung. Yang pasti udara menjadi polusi.

Salah satu cara yang sering saya lihat yang dilakukan orang untuk mengatasinya adalah dengan menyirami dengan menggunakan air, sehingga debu tidak beterbangan lagi. Lumayan bisa mengatasi sementara gangguan.


Apakah kita juga menyadari bahwa debu-debu dalam bentuk lain juga menempel di dalam hati kita?

Sejatinya hati nurani kita adalah terang-benderang. Sebab hati nurani merupakan Pelita Ilahi untuk menerangi kehidupan kita.  Nurani  adalah sumber kebenaran.

Nurani bila diibaratkan sebuah lampu neon yang bersinar terang. Tetapi karena setiap hari debu menempel lama-kelamaan seluruh permukaan tertutupi. Pada akhirnya nyalanya pun jadi remang-remang.

Sama halnya nurani kita yang terang benderang yang setiap hari tertutupi oleh debu kekotoran batin yang tanpa kita sadari telah menutupi terangnya nurani.

Itu sebabnya dari hari ke hari prilaku hidup kita semakin jauh dari nurani. Suara atau kebenaran dari nurani semakin terabaikan. Ego dan nafsu keduniawian lebih menjadi pilihan.

Debu-debu rohani keserakahan semakin menjadi penguasa. Kebencian dan dengki merajalela.  Kebohongan dan kesombongan semakin nyata.

Yang menyedihkan adalah kita justru nyaman dan tanpa upaya untuk membersihkan debu-debu yang ada. Tak heran hidup kita lebih sering mengingkari kebenaran. Yang ada adalah pembenaran. Karena nurani sudah tak memiliki peran. Kesadaran semakin tenggelam dalam fenomena kehidupan.

Dalam nyamannya hiruk-pikuk dunia yang ada saat ini kita memerlukan keheningan untuk paling tidak sedikit menyadari keadaan ini. Bahwa ada yang tidak beres di dalam diri kita, sehingga ada keinginan untuk memperbaiki diri dengan berusaha membersihkan debu-debu kekotoran batin yang ada.  

Dalam keheninganlah kita baru bisa mendengar suara-suara kecil nurani yang masih sayup-sayup terdengar.  Keramaian hidup membuat kita tak peduli lagi dengan suara nurani yang ada. Sebab sudah nyaris tak terdengar.

Dalam keheningan kita memiliki waktu untuk bercengkrama dengan sejati diri, sehingga mempunyai kesempatan untuk merenung dan introspeksi. Yang mana pada akhirnya mau berupaya membersihkan debu-debu hati yang mengotori. 

 

Ada rasa malu dengan diri ketika bercermin. Bila baju yang penuh debu kita pakai pasti merasa malu, apalagi bila hati yang berdebu? Bila tidak saat ini untuk membersihkan. Apakah masih ada kesempatan yang lebih baik?

 

katedrarajawen@refleksihatimenerangidiri

 

 

 


TAGS refleksi hati


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post