Bila Masing-masing Merasa Benar

18 Nov 2015

Bila Masing-masing Merasa Benar 

 

Malam itu sekitar jam sebelas malam saya sedang memacu sepeda motor di jalan raya. Ketika hendak belok lampu merah sedang menyala. Sebagai pengguna jalan yang baik saya berhenti dan sabar menanti. 

 

Seperti biasa kebanyakan pengendara begitu lampu kuning menyala sudah siap-siap menarik gas kendaraan. Jadi ketika lampu hijau menyala bisa langsung melesat. 

 

Begitu juga saya saat melihat lampu hijau menyala lantas memacu kendaraan. Tetapi masih tetap waspada. Tak dinyana dari arah berlawanan sebuah kendaraan juga meluncur. Apa-apaan ini? Asumsi saya kalau dari arah saya lampu hijau menyala otomatis lampu trafik dari arah berlawanan pasti lampu merah yang menyala. 

 

Karena saya merasa sudah benar ya terus menjalankan sepeda motor. Tak disangka seorang wanita yang duduk di depan samping pengemudi membuka kaca dan mengeluarkan kata-kata. Entah apa yang dikatakan. Dari raut wajahnya saya menduga kata-kata yang tak bernilai dan kasar. 

 

Loh, kenapa dia yang tak terima? Bukannya justru mereka yang salah? Buktinya pengendara dari arah yang sama dengan mereka semuanya berhenti. Saya yang merasa benar tentu ada perasaan tak terima. Beruntung saya tak mendengar apa yang dikatakannya. Hanya bisa menduga-duga. 

 

Yang jelas pasti si ibu itu merasa mereka sudah benar juga dan berhak menyalahkan saya. Saya menduga-duga apa sebabnya. Apa buta warna sehingga tak bisa membedakan warna merah dan hijau? 

 

Saat itu rasanya saya ingin berhenti dan memperdebatkan masalah ini. Wong saya yang benar. Kenapa malah saya yang disalahkan?

Tetapi apa jadinya karena pasti si pengendara mobil juga merasa di posisi yang benar. 

 

Akhirnya saya lebih memilih menghibur diri saja ya begitulah hidup ini sudah biasa yang salah pun bisa merasa benar dan lebih galak lagi. Yang kuat nyali dan kuat malu akhirnya yang akan tertawa. 

 

Bukankah sudah banyak terjadi gara-gara masalah seperti ini cekcok terjadi. Ujung-ujungnya malah berkelahi dan saling menyakiti. Terus apa untungnya kalau sudah begini? Apa bisa dimakan rasa benar itu? Beruntung saya terhindarkan dari kebodohan ini. Walau kepala sudah panas masih bisa menghibur diri sambil memacu sepeda motor. 

 

Memang kalau ego sudah menguasai yang merasa benar akan mati-matian memerjuangkan. Apa kata dunia kalau benar malah disalahkan dan dikata-katai pula. Begitu juga yang berada di pihak yang salah tapi ngotot merasa benar pasti akan sekuat nyali memenangkan perkara. Mau ditaruh di mana muka ini kalau kehilangan nyali? 

 

Padahal pada akhirnya kalau ego yang dikedepankan tak akan ada yang benar dan memenangkan perkara. 

 

 

katedrarajawen@ pembelajarandarisebuahperistiwa


TAGS refleksihati


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post