Berbohong dengan Percaya Diri

4 Dec 2015

Berbohong dengan Percaya Diri ~ 

22:07 3 Desember 2015

 

 

Ada kejadian aktual soal berbohong ini. Di pabrik kami ada beli filter untuk pengolahan air minum. Tetapi setelah dipasang seminggu mengalami masalah. Teknisi dari toko datang memeriksa. Mereka mengecek dan tanya-tanya. Terang kami jawab apanya bahwa alat itu sudah terpasang seminggu lamanya. 

 

Tidak lama datang bagian pembelian dan langsung komplain kalau barang baru pasang sehari sudah tak berfungsi dengan baik. Si teknisi jadi tanda tanya dan untuk meyakinkan ia bertanya lagi. Sebenarnya sudah pasang seminggu atau sehari? 

 

Bagian pembelian ini langsung menanggapi dengan percaya diri dan meyakinkan bahwa yang benar ini baru sehari. Dengan nada yang galak pula. Kami diam. Barang memang sudah dibeli hampir sebulan. 

 

Namun setelah teknisi itu pergi saya dan bagian pembelian terjadi sedikit perdebatan. Bahwa kami mengatakan apa adanya. Bukankah sebagai karyawan katanya harus jujur oleh perusahaan? Di lain sisi sadar tidak sadar karyawan justru diwajibkan untuk melakukan kebohongan demi kepentingan perusahaan. 

 

Rekan ini mengatakan bahwa itu urusan dia biar dia yang mengurus kami tak isi ikut campur. Ya sudahlah! Walau hati masih tak terima. Berdebat juga percuma. Capai jadinya yang ada. 

 

Itu baru satu cerita di tempat kerja. Apalagi yang bekerja sebagai penjual untuk meyakinkan pembeli tak jarang jurus berbohong harus dipakai dengan lihai. Berbohong untuk meningkatkan penjualan. Berbohong soal harga sudah hal yang umum. Mengapa saya bisa mengatakan demikian? Ya karena pernah masuk dalam lingkungan tersebut. 

 

Belum lagi dalam dunia politik. Demi untuk meraih kedudukan dan kekuasaan kerap kebohongan harus dipakai. Di atas mimbar bisa percaya diri mengumbar janji yang ia sendiri belum yakin bisa memenuhi. Karena tak lain cuma untuk membius para pemilih. Untuk meyakinkan kebohongan bawa-bawa agama pun berani. Mungkin supaya bohongnya tidak dianggap sebagai perbuatan dosa. 

 

Di dunia hiburan demi untuk mengejar popularitas atau meningkatkan karir jurus-jurus berbohong atau rekayasa pun tak jarang terjadi. Hal seperti ini bukan rahasia lagi dan sudah dianggap sah-sah saja. Bukan lagi noda. Kebohongan bisa dianggap sebagai salah satu tangga menuju sukses secara karir dan materi. 

 

Zaman sekarang orang-orang berbohong tidak pakai risih lagi. Berbohong jadi menu sehari-hari. Sulit membedakan antara bohong atau tidak. Sebab dalam hal berbohong kita sudah begitu terlatih.

 

Sungguh menjadi begitu alami, sehingga tidak lagi menimbulkan curiga. Bahasa tubuh begitu meyakinkan. Itu sebabnya kita bisa tertipu. 

 

Yang luar biasa memang kita melakukan kebohongan itu penuh percaya diri tanpa ada perasaan bersalah lagi. Begitu nyaman. Tak ada lagi getar-getar jiwa yang mengusik. Desiran rasa malu tak ada lagi. 

 

Ketika ada yang mempertanyakan kita malah balik menantang untuk membuktikan kalau memang kita berbohong. Kalau tidak percaya tanya saja si anu! Tentu hal ini membuat yang curiga tak bisa berbuat apa-apa. Mau bukti bagaimana? 

 

Jangan heran sekarang ini kalau tak pandai berbohong malah dianggap salah. Karena katanya hidup zaman sekarang memang harus pintar berbohong untuk meraih keuntungan dan dianggap hebat. 

 

Apakah kita yang masih memiliki getaran jiwa yang menangis tatkala berbohong harus belajar serupa dengan dunia agar tidak dianggap aneh dan dapat bertahan hidup? 

 

katedrarajawen@pembelajarandarisebuahperistiwa


TAGS refleksi


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post