Sulitnya Menjaga Kepercayaan

29 Dec 2015

Sulitnya Menjaga Kepercayaan  ~ 08:42 28 Desember 2015

Anak saya bercerita tentang temannya yang membuat ia kesal dan marah.  Bagaimana tidak,  teman sekelasnya di Sekolah Dasar dengan senang hati dipinjami ID untuk main game.  Namun setelah itu entah sengaja atau tidak sengaja tidak melakukan log out  dan anak saya tidak  memerhatikan. Selanjutnya si teman bisa terus melakukan permainan dengan menggunakan ID tersebut. Lalu  ID tersebut diakui miliknya.

Si dede sudah mengingatkan untuk mengembalikan tetapi malah diabaikan dan merasa tidak bersalah. Lalu malah diberikan ke temannya yang lain. Siapa yang tidak kesal?

Anak saya sangat menyayangkan sikap temannya  yang begitu mudahnya menghianati kepercayaan. Sudah dengan senang hati meminjamkan ID miliknya justru kemudian mengakui sebagai miliknya ID tersebut, sehingga ia bisa bebas melakukan permainan yang sama dan mengakui pencapaian anak saya atas permainan tersebut. Jujur saya tak begitu paham soal permainan ini.

Pengalaman anak saya tersebut hanyalah satu contoh soal kepercayaan. Dimana pada saat ini begitu mudahnya kita lalai akan sebuah kepercayaan ini. Seringkali kepercayaan yang kita dapat justru dimanfaatkan untuk keuntungan sendiri yang mencederai kepercayaan yang ada.

Saya yakin kita pun pernah mengalami kejadian ini. Kepercayaan yang kita berikan kepada seseorang tapi diabaikan begitu saja. Misalnya dalam urusan pinjam-meminjam. Ketika pinjam  janjinya manis semanis madu namun kenyataan sepahit empedu.

Ini juga pernah dialami istri ketika ada temannya yang minta tolong untuk pinjam sedikit uang. Janji sebulan akan selesai urusan. Ketika janji meleset minta tenggang dalam hitungan hari masih bisa dimaklumi. Namun setelah lewat tiga bulan minta ketegasan karena sedang butuh juga malah tidak senang dan marah. Bayangkan sudah memberi percaya dan tenggang rasa ia justru yang marah.

Jangankan hanya dalam bentuk omongan,  kepercayaan yang diberikan secara tertulis pun masih bisa dilanggar dengan segala pembenarannya.

Sepertinya fenomena ini sudah lazim terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Baik di lingkungan sekitar kita maupun dalam contoh yang bisa kita saksikan dari perilaku para pejabat dan politisi di negeri kita. Begitu mudahnya mengingkari kepercayaan yang telah rakyat berikan.

Dahulu orang jual beli cukup salaman sebagai bentuk yang mengikat. Seiring perubahan zaman sekarang harus tertulis dan bermaterai lagi. Kalau tidak orang bisa suka-suka tidak mengakui.

Hal ini terjadi karena pengalaman yang membuat kita melakukan segalanya dengan cara tertulis atau semacam surat perjanjian.  Dimana sudah langkanya sebuah kepercayaan. Mudahnya kita melanggar kepercayaan yang ada. Padahal dalam setiap diri kita memiliki sifat mulia  yang bernama dapat dipercaya.

Jangankan melewati sekian waktu baru bicara beberapa saat saja sudah berani mengingkari. Tak peduli lagi dengan suara nurani yang berteriak pedih dengan sikap ini.

Bagaimana dengan diri kita sendiri? Apakah kita juga hendak mengingkari perilaku kita selama ini termasuk yang sulit memegang kepercayaan? Sungguh beruntunglah bila di antara kita adalah termasuk yang teguh memegang kepercayaan.

Ketika sebuah kepercayaan telah hilang, maka itu akan menjadi catatan yang mendalam yang sulit terlupakan. Jangan salahkan siapa-siapa bila itu kita alami sendiri.


TAGS renungan


Comment
-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post