Sungguh Tak Nyaman Menerima Kesalahan

26 Jan 2016

Ketika Salah Disalahkan Masih Tak Menyenangkan Apalagi Ketika Benar Disalahkan ~ 23:35 22 Januari 2016

 

Manalah enak menerima kesalahan. Pasti bikin hati dongkol menyebalkan. Muka merah dan kepala berasap. Itu sebabnya yang menjadi pilihan kita adalah menolak keras bila ada yang menyalahkan. Walau kita menyadari kesalahan itu. 

 

Senjata sakti untuk menolak disalahkan adalah dengan mengeluarkan senjata kemarahan. Hal ini berlaku di mana-mana. Kehidupan telah membuktikan sudah jelas salah kita tetap akan menghindar dan bahkan melawan. Apalagi kejadiannya di tempat umum di mana banyak mata memandang. Pastilah sulit untuk menerima kenyataan untuk disalahkan. Harga diri yang menjadi pertaruhan. Mau taruh di mana muka ini. Jadi marah menjadi perlindungan aman. Itu yang kita persepsikan. Hingga ajian kemarahan selalu menjadi jurus pamungkas 

 

Kenyataanya memanglah jarang orang yang memiliki lapang dada untuk ikhlas dipersalahkan dalam kehidupan ini. Selebihnya akan dengan gagah melawan sampai titik darah penghabisan. Betapa ada yang rela untuk membeli kesalahannya dengan kuasa dan materi. Akhirnya dapat menikmati kesalahannya dengan tawa tanpa harus menerima salah dan merasa bersalah. 

 

Namun ada yang walau kita tahu tapi lupa. Yakni tiada kesalahan yang lepas dari pengawasan Yang Mahamelihat. Sekecil apapun walau kita dapat menutup rapat-rapat dari mata manusia pasti tiada lalai untuk tercatat oleh malaikat. 

 

Di sinilah patut kita untuk menyadari menolak kesalahan bukan berarti akan terhindar dari kesalahan atau terhapus sama sekali dari kesalahan tersebut. Apa pun itu kesalahan tetaplah kesalahan. Menerima dan menjadikan sebagai energi untuk memerbaiki itu diri pastilah adalah pilihan terbaik. Mengapa kita tidak memilih hal ini? 

 

Bagaimana pula bila tidak salah malah disalahkan? Sungguh menyakitkan dan yang sering terjadi pasti kita akan menolaknya mati-matian. Sakit hati dan dendam tak jarang tumbuh tak berkesudahan. 

 

Bila hal ini yang terjadi yakinlah bahwa kesakitan yang ada akan semakin menganga. Bila demikian kita menyikapi kehidupan ini, maka sulitlah untuk mencapai pendewasaan rohani. 

 

Memang bukan hal yang mudah untuk membuka dada ini lapang-lapang menerima kesalahan yang tidak kita lakukan. Beginilah bila ego yang berkuasa. Tak ada sejarahnya akan bersedia menerima. Sebab secara otomatis telah terpasang penangkal yang sangat sensitif.

 

Di sinilah membuktikan bahwa kita masih perlu untuk menumbuhkan kesadaran melatih diri dan mengembalikan nurani yang menjadi penguasa atas hidup kita. 

 

Bila nurani yang telah menjadi tuan rumah, maka apapun itu tiada yang akan dapat menyakiti kita. Sebab hal yang baik dan yang buruk dapat disikapi dengan rasa yang sama. Nah, ini yang sungguh susah. Walau demikian bukan berarti hal yang tak bisa mewujudkan menjadi nyata. 

 


TAGS refleksii


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post