Ternyata, Kejujuran Itu Masih Ada

17 Mar 2016

Kejujuran Itu Masih Ada ~ 06:45 3 Februari 2016

Benarkah kejujuran  sudah langka di kehidupan kita atau sama sekali tidak ada lagi di dunia ini? Mengapa kita terlalu skeptis bila memiliki pemikiran ini karena bertemu satu dua atau beberapa orang di sekitar kita yang tidak jujur?

Tak jarang pula kita membaca atau mendengar perkataan yang pesimistis bahwa kejujuran sudah langkah di dunia ini. Seakan di dunia ini tidak ada orang jujur lagi. Kalau pun ada sudah sulit menemukan. Ibarat mencari jarum di tumpukan jerami. Apakah ini karena bercermin pada diri sendiri? Seperti ada yang mengatakan bahwa kita adalah apa yang kita pikirkan!

Tetapi bila juga mau jujur ternyata masih mudah pula kita menemukan orang-orang jujur di sekitar. Apakah di antara kita ada yang menemukan mereka yang masih memiliki kejujuran? Kalau itu memang  sudah tidak ada pada diri kita.

Jangan pernah ragukan bahwa selama dunia masih ada, maka kejujuran pun akan selalu ada. Takkan pernah musnah dari dunia ini. Yang lebih indah bila manusia yang masih memiliki kejujuran itu adalah diri kita sendiri.

Beberapa waktu yang lalu seorang karyawan menemukan dua lembar uang lima puluh ribuan ketika suasana kantin sudah sepi. Walau cuma seratus ribu nilainya tapi pasti menggoda untuk memilikinya. Apalagi kantong sedang kempes. Ditambah bisikan kiri-kanan tidak apa-apa dan anggap saja sebagai rezeki karena sudah menemukandi tempat umum. Bukan mengambil dari kantong orang.

Namun karyawan yang menemukan ini segera melaporkan ke bagian keamanan. Tentu dengan maksud  supaya dikembalikan kepada pemiliknya. Kebetulan kejadian itu di depan mata saya.

Kalau tak ada sifat jujur tentu dengan mudah karyawan ini memasukkan temuannya ke dompet yang kehilangan pun tak akan mungkin tahu bukan? Tetapi saya yakin karena sifat jujurnya masih ada, maka dengan ikhlas ia menyerahkan uang yang ditemukannya.

Berselang sehari saya temukan satu lagi kejadian yang berhubungan dengan kejujuran. Seorang pria memanggil-manggil seseorang yang hendak meninggalkan rumah makan. Rupanya ada telepon pintarnya yang tertinggal di meja.

Orang yang dipanggil segera berbalik dengan wajah yang sumringah. Sekilas saya lihat model teleponnya tentulah tak murah. Kalau orang yang menemukan tak memiliki sifat jujur tentu akan segera mengamankan telepon tersebut di tempat yang aman untuk menjadi miliknya.

Ada lagi seorang bapak menemukan tas di meja yang ada di luar sebuah minmarket lalu ia membawa dan mencari-cari pemiliknya yang kemungkinan masih ada di area tersebut. Tetapi tidak ditemukan. Lalu bapak ini membawa tas tersebut ke bagian kasir untuk menitipkan tas itu tentu dengan maksud bila pemiliknya kembali untuk mencari bisa lebih mudah menemukan.

Saya sendiri pun pernah beberapa kali mengalami telepon ketinggalan namun tetap bisa memilikinya kembali karena orang yang menemukan masih mempunyai sifat jujur.

Dari kejadian-kejadian yang ada membuktikan bahwa kejujuran itu masih ada. Tentu yang layak dipertanyakan adalah kepada diri kita sendiri. Apakah aku masih memiliki kejujuran itu? Apakah biasa saja atau masih merasa malu bila kejujuran itu sudah lenyap dari diri kita? Bila sudah tak ada kejujuran di dalam diri, manusia macam apalah diriku ini?

 

 


TAGS refleksihati


-

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post