• 16

    May

    Kontribusi

    Ketika mendapat kabar dari seorang teman bahwa saya mendapat undangan khusus untuk hadir pada sebuah acara karena dianggap sudah berkontribusi di dalam wadah kemanusiaan dan ke-Tuhan-an untuk membantu sesama. Tentu saya sedikit kaget. Secara manusiawi saya merasa bangga. Hebat juga saya! Ternyata kontribusi saya dulu masih ada yang ingat. Tapi ketika kesadaran yang bicara justru saya merasa malu. Apa kontribusi yang telah saya berikan selama ini? Tak lebih dari tenaga dan semangat. Tak ada apa-apanya dibandingkan dengan yang lain. Sudah keluar tenaga, semangat dan masih memberi kontribusi dalam bentuk uang. Bicara lebih mendalam lagi tentang kesadaran ini. Apa yang patut saya banggakan dengan hanya sedikit kontribusi kecil dulu? Lagi pula yang yang telah dilakukan seka
    Read More
  • 9

    Oct

    Awalnya Nolak, Selanjutnya Enak

    Dalam ruangan yang terkunci rapat ada dua sosok manusia di dalamnya di meja masing-masing dengan tumpukan berkas-berkas: Ini bagianmu, kawan, hasil mark up harga belanja kantor kemarin, kata yang seorang yang penampilannya perlente sambil menyerahkan sebuah amplop. Apa nih? gelagapan,Gak, Pak. Ini bukan hak saya! pegawai yang masih baru dan polos itu tidak berani menerima amplop yang diserahkan. Tangannya gemetaran. Kamu ini gimana sih. Ini rejeki jangan ditolak. Udah ambil aja. Lagian gak ada yang tahu ini! seseorang itu mendesak. Tapi sejak kecil saya diajarkan untuk tidak menerima sesuatu yang bukan miliki saya, Pak! pegawai yang berwajah imut itu masih berusaha menolak. Kawan, jaman sekarang itu jadi orang gak usah jujur-jujur amatlah. Sesekali gak jujur gak apalah. Lagian
    Read More
  • 3

    Sep

    Berpikir Positif Saja Belum Cukup

    Berpikir positif memang baik. Tapi itu masih belum cukup sebagai modal untuk menghadapi dinamika kehidupan. Lebih lengkap lagi bila berpikir positif kita diiringi oleh keikhlasan hati. Bila terlalu berpikir positif tanpa keikhlasan, bisa-bisa membuat kita terjatuh menyakitkan oleh kecewa yang mendalam. Misalkan dalam sebuah perlombaan kita sudah memenuhi seluruh pikiran dengan positif akan menjadi pemenang. Kita berjuang dan merasa yakin kemenangan sudah dalam genggaman. Piala kemenangan sudah di depan mata. Apa yang terjadi? Ternyata kekalahan yang terjadi. Seketikan kekecewaan mendera. Tak percaya dengan kekalahan yang harus diterima. Semangat langsung turun drastis. Pada keadaan ini, maka keikhlasan hati untuk dapat menerima kekalahan sangat dibutuhkan. Keikhlasan dibutuhka
    Read More
  • 16

    Jun

    Omong Kosong Tentang Poligami

    Poligami lagi? Ya, tiba-tiba terpikirkan. Karena topik yang masih bisa dihangatkan dan belum ada yang bosan. Buktinya masih ada yang menulis dan terjadi silang pendapat. Apa saya sedang berniat poligami? Jangan sembarangan. Masih banyak yang lebih penting untuk dipikirkan. Maaf, saya tidak menentang poligami pun tidak menyetujui. Jadi yang mau silakan. Yang tidak mau silakan. Tidak ada urusan dengan saya untuk setuju atau tidak. Bukankah tulisan ini hanya mau omong kosong saja. Namanya omong kosong ya berarti omongannya tidak ada isi. Namanya omong kosong suka-suka yang omonog. Setelah itu ramai-ramai diteriaki. Dasar gombal. Yang berniat poligami tentu saja setuju dan membawa dalil-dalil kebenaran untuk mendukungnya. Sudah pasti. Yang tidak berniat atau menentang pun
    Read More
  • 11

    Apr

    Muliakanlah Tempat Ibadah Agama Lain

    Muslim yang baik harus memuliakan tempat ibadah agama lain! demikian yang pernah dikatakan Sultan Saladin dari Mesir. Siapa yang tidak kenal Sultan Saladin yang legendaris itu? Sultan Saladin atau Salahuddin Al Ayubi (1137 - 4 Maret 1193) adalah seorang jendral dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah utara Irak saat ini), Beliau adalah pendiri Dinasti Ayyubiyyah di Mesir dan Suriah. Sultan Saladin adalah tokoh kunci pada Perang salib III (1188-92). Perang salib III adalah yang paling legendaris. Karena adanya pertarungan sengit antara Raja Richard versus Sultan Saladin yang berakhir saling berjabat tangan. Saladin, King of Egypt atau Saladin Sang Raja Mesir terkenal karena hati yang mengampuni. Tercatat dalam buku-buku sejarah betapa mulianya Sultan Saladin. Ketika pasukan
    Read More
  • 9

    Apr

    Yanti, Istri yang Mengharamkan Suaminya Menerima Uang Haram

    Tak jarang wanita yang senang dan suka-suka saja bila suaminya pulang membawa banyak uang. Begitu pula saat sang suami pulang banyak membawa oleh-oleh, berupa pakaian dan perhiasan. Apalagi berupa emas, intan, dan berlian. Sepertinya akan membuat sang istri mabuk kepayang dan amnesia, sehingga lupa untuk bertanya, darimana semua itu berasal? Apakah itu uang dan barang halal atau haram. Masa bodoh dan tidak perlu banyak tanya! Padahal sang istri dengan jelas mengetahui berapa gaji sang suami sebenarnya. Kalau soal uang dan intan berlian, anggap saja halal semuanya selagi tidak ketahuan dari mana asalnya. Tetapi hanya sedikit saja istri yang menjadi was-was dan takut saat menemukan suaminya pulang banyak membawa uang dan perhiasan. Bertanya-tanya dari mana semuanya it
    Read More
  • 7

    Apr

    Jangan Karena Siapa Dia, Tapi Karena Siapa Saya

    Sir Winston Leonard Spencer Churchill (1874-1965), mantan Perdana Menteri Inggris yang termasyur, ditegur temannya ketika berpapasan dengan seorang wanita, Churchill mengangkat topinya. Itu adalah sebagai tanda hormat. Temannya itu mengingatkan, bahwa wanita yang barusan ia beri hormat, hanyalah seorang wanita malam. Tak selayaknya Churchill melakukan hal itu. Churchill dengan arif menjawab,”Tuan, saya mengangkat topi bukan karena siapa dia, saya melakukannya justru karena siapa saya.” Luar biasa. Sebuah sikap dan karakter dari seorang yang memiliki kebaikan yang sesungguhnya. Bukan sikap kepura-puraan seperti yang ada pada kebanyakan dari kita ketika berhadapan dengan orang lain. Kita sering menunjukkan kemunafikan dalam bersikap. Umumnya sikap hormat kita disebabka
    Read More
  • 31

    Mar

    Kenapa Guru Agama harus Meledek Agama Lain?

    Soal ledek-meledek atau saling merendahkan dan saling mengklaim sebagai yang terbaik sudah biasa di antara umat beragama. Seperti perang iklan kecap saja. Kecenderungan ini terjadi lebih karena untuk membesarkan ego masing-masing saja. Menunjukkan ketidak-mengertian akan kebenaran agamanya sendiri. Itulah sebabnya sampai perlu merendahkan atau menghina agama lain. Silakan saja bila hendak mengagung-agungkan kebenaran agama sendiri. Kabarkan pada dunia. Sebarkan ke seluruh penjuru alam. Itu adalah kewajiban. Tapi tidak seharusnya dengan menistakan agama lain. Soal ledek-meledek agama lain. Baru saja si Dede curhat sama saya. Karena ia bersekolah di negeri dan ikut belajar pelajaran agama satu-satunya di sekolah. Yakni agama Islam. Si Dede mengeluhkan,”Parah banget guru agama di se
    Read More
  • 9

    Mar

    Biksu dan Pendeta pun Bergandengan

    Ada rasa haru dan tersentuh disertai sedikit air mata yang tertahan. Membaca kisah Ajahn Brahm, biksu kepala di Australia yang diundang berceramah pada upacara pemakaman kepala biara Katolik. Bagaimana awalnya menjadi hal yang janggal, sehingga mengundang perhatian umat di Gereja Anglikan tersebut. Dimana pada akhirnya seluruh umat berdiri memberi penghormatan tatkala Ajahm Brahm berjalan bergandeng tangan dengan pendetanya. Atas peristiwa ini, Ajahn Brahm menulis: [Perbedaan antar umat beragama hanyalah diciptakan oleh orang-orang yang tak memahami apa yang mereka omongkan. Pemimpin agama sejati itu pasti akan selalu bisa saling merangkul dan berjalan bersama.] Saya pikir indah sekali apa yang disampaikan oleh Ajahn Brahm. Selama ini perbedaan antar agama itu ada kesengajaan di
    Read More
  • 30

    Dec

    Kemiskinan itu Menyedihkan, Memiskinkan Lebih Menyedihkan Lagi

    Menjadi miskin di atas kejujuran tidaklah memalukan. Namun sungguh memalukan bila memiskinkan diri harus menukarnya dengan ketidak-jujuran. [Sahabatku.... Kemiskinan itu memang menyakitkan, ketika menjadi penghinaan. Tidak dihargai sebagaimana mestinya. Dipandang sebelah mata. Tersingkirkan dan menjadi beban. Tak ada penghargaan untuk kemiskinan. Menyakitkan. Menjadi miskin itu menyedihkan. Keinginan hanya menjadi harapan kosong. Menahan lapar, sebab tak ada hidangan. Sarapan menjadi sesuatu yang mewah. Menyedihkan harus menahan kedinginan. Tak ada tempat berteduh. Baju hanya yang melekat di badan. Ketika basah tak ada untuk pergantian. Sungguh nelangsa. Sudah menahan lapar kedinginan pula. Mata hanya bisa menatap hampa sambil menelan air liur yang menjadi santapan. Menelan angi
    Read More
- Next

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post