• 22

    Oct

    Apa yang Dianggap Benar Belum Tentu Benar

    Apa yang sudah jelas kita lihat atau anggap benar belum tentu itu adalah kebenaran yang sesungguhnya. Seringkali kebenaran itu hanyalah menurut pendapat umum atau sekadar asumsi dan penglihatan kita.   Yang jadi masalah adalah kita memaksakan apa yang kita anggap atau lihat benar itu sebagai paling benar, sehingga dengan mudahnya kita menyalahkan atau bahkan menghakimi yang berbeda pendapat atau penglihatan. Padahal tidaklah demikian benarnya. Tetapi sudah demikian terpersepsi dalam diri kita.  Anak saya si dede menggambar sebatang pohon kelapa dengan dahan-dahannya yang rindang. Daun-daunnya diberi warna hijau. Namun salah satu dahan malah diwarnai coklat.  Gara-gara daun berwarna coklat itu nilai gambarnya berkurang. Guru si dede memberikan koreksi seharusnya daun-daun it
    Read More
  • 20

    Oct

    Apakah Agama Sudah Membuat Hidup Damai?

    Bila kita yang beragama masih suka bikin kacau dan tak bisa hidup damai dengan sesama itu membuktikan kita tak memahami makna dari kata ‘agama’ itu sendiri. Bagaimana kita bisa memahami ajaran agama kita sendiri bila untuk kata ‘agama’ saja tak bisa memahaminya dengan baik?  Padahal omo hal yang sederhana. Tetapi menjadi tidak sederhana ketika kita tidak menggunakan hati yang sederhana untuk memaknainya. Secara harafiah kita tahu bahwa kata ‘agama’ berasal dari bahasa Sansekerta A dan Gama. Yang bermakna ‘Tidak Kacau’ alias damai. Sederhana, kan? Sebenarnya dari makna kata ‘agama’ saja kita sudah dapat memahami bahwa dengan beragama itu adalah untuk membuat kehidupan ini aman dan damai alias tidak kacau atau mengacaukan kehi
    Read More
  • 16

    Oct

    Nafsu Kenikmatan dan Kesenangan

    Nafsu Kenikmatan dan Kesenangan  Katedrarajawen~  14:02 13 Oktober 2015   Apa nilai kehidupan yang lebih menjadi pilihan hidup kita antara pemuasan selera nafsu kenikmatan duniawi yang mendatangkan kebahagiaan semu atau mendalami spiritual yang mendatangkan kepuasan sejati?      Pemuasan Nafsu Duniawi    Realita yang ada atau bercermin pada diri sendiri sebagai manusia yang hidup pada kekinian yang penuh warna-warni bahwa lebih memilih untuk memuaskan nafsu dan selera atas segala yang enak dan nikmat menurut rasa.    Segala makanan dan minuman yang yang dapat memuaskan nafsu dan selera kenikmatan lebih menjadi pilihan. Padahal secara esensi manfaat sangat jauh dibandingkan efek negatifnya bagi kesehatan.    Kita sadar bahwa penya
    Read More
  • 14

    Oct

    Memberi Atas Nilai Kemanusiaan

      Memberi Tanpa Syarat. - 16:37 12 Oktober 2015   Sejatinya saat memberi kita membutakan mata dan pikiran, sehingga hanya mata hati yang bekerja. Ketulusan untuk membantu sesama yang menjadi ukuran.   Dengan demikian kita tidak akan melihat dan berpikir siapa yang akan menerima pemberian kita. Yang menjadi standar adalah kelayakannya untuk menerima.   Bila tidak demikian kita akan terkungkung dalam kemelekatan yang mengikat, sehingga tidak bisa bebas dalam berkebajikan. Pada akhirnya ini membuat kita tak bisa lagi meluaskan kebaikan hati kita yang begitu luas kepada sesama makhluk Tuhan.    Untuk pembelajaran kehidupan ini seringkali Tuhan harus meminjam bencana untuk menyadarkan kita. Salah satunya ketika bencana dahsyat tsunami yang melanda Aceh pada akhir
    Read More
  • 9

    Oct

    Kebencian Itu Bagaikan Racun

    Kebencian Bagaikan Racun ~ 15:16 3 Oktober 2015   Apakah ada kebencian di dalam diri kita? Paling tidak dalam hidup kita pernah merasakan kebencian itu kepada orang yang tidak kita sukai.   Tetapi seiring berlalunya waktu kita dapat melupakan kebencian itu. Intinya kita tidak menyimpan kebencian itu sebagai harga mati. Kebencian hanya datang silih berganti.    Belum lama ini seorang kawan mengungkapkan perasaannya. Bahwa selama 15 tahun ini ia menyimpan kebencian kepada pasangannya. Walau masih tetap hidup bersama rasa benci itu tersimpan rapi di hatinya.     Walau rapi ia menyimpan rasa benci itu yang pasti tak ada rasa damai dalam hidup bersama pasangannya.    Kebencian adalah salah satu penyakit hati yang mematikan. Ia merupakan racun yang akan m
    Read More
  • 6

    Oct

    Lebih Baik Tidak Meremehkan dan Menghina

    Lebih Baik Tidak Meremehkan    Katedrarajawen ~ 12:32 6 Oktober 2015     Apakah kita termasuk orang yang suka menghina atau meremehkan kekurangan dan kemiskinan orang lain? Bila Itu menjadi kebiasaan dan pilihan hidup kita, maka siap-siaplah bila akhirnya itu akan memermalukan diri sendiri. Bila lebih cerdas bisa memilih untuk segera bertobat!   Saya pernah membaca sebuah kisah dimana seorang pria yang jatuh cinta pada seorang wanita berada. Tentu saja cintanya ditolak mentah-mentah dengan penghinaan. Sebab pemuda itu dari kalangan miskin.   Sekian tahun berlalu dan pemuda itu tetap tak mampu melupakan wanita yang dicintai itu. Sampai suatu waktu mereka bertemu kembali di sebuah mall elite.   Dengan bangga wanita itu mengatakan bahwa kini ia sudah bersu
    Read More
  • 4

    Oct

    Kematian Pasti Datang

    Ketika Kematian Pasti Datang  Katedrarajawen ~ 8:24 3 Oktober 2015   Apakah kita sanggup menolak datangnya kematian itu? Sudah jelas bahwa kematian adalah jelas dan mutlak akan datang di dunia yang penuh ketidakpastian ini.  Walau kematian itu pasti menjemput namun kita tak tahu datangnya kapan. Yang pasti peti mati itu untuk orang mati tidak peduli tua, muda atau masih anak-anak. Jadi kematian itu tidak hanya menjemput orang-orang yang sudah renta.  Siapa pun yang berada dalam pusaran kehidupan di dunia ini tidak peduli miskin atau kaya. Tua atau masih anak-anak. Rela atau takut kematian tak memilih mengambilnya.  Kemarin saya melayat saudara yang meninggal karena sakit. Anaknya masih kecil dan di antara saudaranya yang pria ia adalah yang paling muda. Sementara
    Read More
  • 2

    Oct

    Hidup Penuh Masalah

    Hidup Penuh Dengan Masalah    Bosan dengan masalah yang datang silih berganti dalam hidup ini dan berpikir kapan akan terbebas masalah? Jangankan sewaktu hidup orang mati saja akan menghadapi masalah.    Jadi adalah pemikiran yang konyol apabila menjalani hidup ini terbebas dari masalah. Masalahnya masalah akan menjadi masalah atau tidak semua kembali kepada kita menyikapi.  Sejatinya hidup ini adalah lautan masalah. Jadi ketika sudah hidup di dunia ini tak perlu takut dengan masalah. Sebab kita akan selalu menjumpai masalah.  Yang terpenting adalah kita dapat bijak menghadapi masalah yang datang dimana seakan tanpa henti itu. Sebab masalah itu adalah bagaikan batu ujian untuk meningkatkan kualitas diri kita.  Ketika kita mampu menghadapi dan cerdas meny
    Read More
  • 11

    Mar

    Penampilan dan Diskriminasi

    Saat menghadiri undangan acara Perayaan Imlek bersama Perkumpulan Warga Kalbar Tangerang di Novotel Hotel yang berada Tang City Mall, ketika hendak memasuki lift berpapasan dengan seorang bapak berbaju batik dan kepala plontos.   Dengan ramah ia memersilahkan saya, istri dan s dede masuk terlebih dahulu. Saya berpikir beliau pasti petugas di hotel biasa yang melayani tamu. Begitu juga ketika hendak keluar dari lift, beliau pula yang dengan gerakan tangan menunjukkan, agar kami keluar terlebih dahulu.   Ketika acara berlangsung dan beliau naik ke atas panggung, saya baru mengetahui ternyata bapak itu General Manager Hotel Novotel #pikiranyangmenipu   Dalam kehidupan ini penampilan memang seringkali menipu. Sebab kita sendiri yang memersepsikan diri dengan fokus kepada penamp
    Read More
  • 27

    Feb

    Keyakinan

    Pada kekinian, jari-jari tangan sering menjadi perhatian. Kenapa? Ya, tidak salah lagi. Apakah memakai batu permata atau akik? Ya, sekarang memakai batu akik memang sedang menjadi tren. Banyak obrolan yang terjadi tentang seputar batu akik ini. Setiap kali memakai batu cincin selalu menjadi perhatian. Batu apa ini? Bagus ya? Ah, batu jelek itu! Ah, ini masakan, ini imitasi. Begitu komentar yang ada. Ada satu batu kecubung pemberian teman yang paling sering saya pakai. Entah karena sok tahu atau cuma berkomentar sekenanya beberapa di antaranya memvonis itu plastik atau imitasi karena saking beningnya. Tentu saya malas untuk menanggapi atau paling saya menjawab bahwa batu tersebut memang plastik. Manalah mungkin bisa beli yang asli? Sebagai yang memiliki tentu saya yakin batu kecubung terse
    Read More

Author

Manusia yang ingin berusaha menjadi lebih baik

Search

Recent Post